Rabu, 27 Oktober 2010

Ilmu yang Bermanfaat

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى أله وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.



Amma ba’du :

Ayyuhal muslimun ! bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala . Karena takwa kepada Allah Dapat mengantarkan manusia kepada ilmu yang merupakan tangga keselamatan, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala . Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan . (QS.Al-Anfal :29)

Yang dimaksud dengan Furqan ialah ilmu yang bisa digunakan untuk membedakan Fakta-fakta yang ada dan memisahkan antara yang hak ( benar ) dan yang batil ( salah ).

Ibadallah , tidak ada yang menyaksikan bahwa ilmu pengetahuan adalah keburukan, bencana, dan kehinaan. Ilmu yang bermamfaat adalah sumber keutamaan, sedangkan kebodohan adalah kubangan dan pusat kehinaan.Ilmu pengetahuan adalah sumber air yang paling segar dan tempat berkumpulnya hal-hal yang berserahkan. Dengan ilmu yang bermamfaat, individu-individu dan kelompok-kelompok dapat membangun kejayaan dan peradaban. Sedangkan dengan kebodohan pilar-pilar bangunan akan rapuh, penyangga bangunan akan runtuh, dan anak manusia akan dilanda kehancuran. Oleh karena kedudukan dan posisi ilmu yang tinggi itulah agama kita. Agama islam yang hanif mendorong untuk menguasai ilmu, menganjurkan untuk mempelajarinya dan menyerukan untuk menempuh jalurnya. Islam juga mengjarkan bahwa mencari ilmu yang bermamfaat adalah jalan menuju gerbang surga, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala. .

Dalam sebuah Hadits Shahih Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :

‘’ Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.’’ ( HR. Muslim, 2699 )

Perintah membaca adalah seruan pertama yang digunakan oleh Islam. Hal itu dilakukan dalam rangka mengingatkan pentingnya nilai ilmu pengetahuan, mengangkat harganya, memantapkan pondasi bangunan mental di dalam umat, membangun panggung peradaban umat, membuka rahasia kemajuan, dan perkembangan eksistensinya. Yakni ilmu pengetahuan tentang Kitab Allah dan Sunnah RasulNya Serta segala macam ilmu pengetahuan yang diperlukan oleh umat Islam di dalam melanjutkan perjalanannya.

Sehingga mereka bisa membuat peradabannya sejalan dengan zaman di mana mereka hidup Namun tetap memegang teguh perinsip-perinsip akidahnya dan ajaran-ajaran agamanya .

Ummatal Islam ! Di dalam Kitab Allah banyak sekali ayat yang mengangkat topik yang penting ini. Bukankah anda pernah membaca Firman Allah ,

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى

Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta. ? (QS. Ar-Ra’du :19)

Atau firman Allah Subhanahu Wata’ala ,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah: "Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". (QS. Thaha :114)

Atau firman Allah Subhanahu Wata’ala,

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.( orang-orang yang berilmu. (QS. Fathir :28)

Atau firman Allah Subhanahu Wata’ala,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ

Katakanlah:"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui"? (QS. Az-Zumar :9)

Atau Firman Allah Subhanahu Wata’ala,

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS.Al-Mujadilah :11)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam Sang Guru pertama adalah suri tauladan yang baik dalam hal ini. Di dalam Sunnah beliau, baik Sunnah qauliyah maupun Sunnah amaliyah terdapat banyak informasi yang menerangkan adanya kedudukan tertinggi dalam masalah ini.

Sedangkan generasi Salaf kita yang Shalih telah mencatat halaman-halaman paling cemerlang, membuat model paling menakjubkan dalam hal minat terdapat ilmu pengetahuan, dan telah melintasi gurun pasir yang luas dalam rangka mencari ilmu. Sehingga kerja keras mereka itu mewariskan peradaban ilmiah yang beragam dan belum ada yang menyamainya sepanjang sejarah. Dan perpustakaan Islam dalam berbagai disiplin ilmu menepati tempatnya yang sangat tinggi. Hal itu tak lain karena pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala, kemudian berkat niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu; tidak dinodai oleh ketamakan duniawi dan ambisi materi. Juga berkat adanya metode yang benar, keseriusan dan semangat pantang menyerah yang perlu ditiru dan diteladani oleh para penuntut ilmu saat ini .

Wahai umat ilmu dan iman ! Sesungguhnya musibah terbesar yang menimpa banyak orang Islam sekarang adalah kebodohan terhadap agama Allah . Inilah yang menjadi penyebab timbulnya segala masalah dan pemicu lahirnya segala kesulitan. Orang semacam itu bila hidup tidak dianggap ada dan bila mati tidak dianggap hilang. Adanya tuhan yang disembah selain Allah dan banyaknya orang yang beribadah dengan cara yang berlainan dengan syari’at Allah, akibat dari kebodohan ( ketidak tahuan ) akan hakikat Islam dan prinsip-prinsipnya yang luhur .

Pendek kata, Segala macam keburukan, bencana, kerusakan dan penyakit yang ada di dalam akidah, ibadah, persepsi, pikiran, prilaku dan perangai umat bersumber dari kebodohan dan bermula dari ketidak tahuan. Barangsiapa menginginkan keselamatan maka jalur ilmulah tangga menuju kesana, dengan izin Allah .

Ilmu yang paling kita inginkan adalah ilmu tentang Kitab Allah. Baik dalam konteks membaca, menghapal,merenungkan maupun menafsirakannya. Berikutnya adalah ilmu tentang Sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Waasallam, Baik dalam konteks priwayatan, pemahaman,maupuan penerapan. Juga memberikan perhatian terhadap pendalaman agama Allah dalam bidang akidah, ibadah, muamalah, dan lain-lain. Supaya seorang muslim mengetahui duduk perkaranya. Begitu juga ilmu tentang bahasa Al-Qur’an, bahasa Arab yang fushhaa ( baku ) yang dihindari oleh banyak orang, dicampuradukkan dengan bahasa-bahasa lainnya, dan tidak henti-hentinya mendapat serangan dalam hal unsub (gaya bahasa), tarkib (struktur), Syair (puisi), dan natsar (prosa)nya dari sebagian orang yang menaruh dendam kepadanya. Tetapi Allah selalu menjadi penjaganya sepanjang dia menjaga agama dan Kitab Sucinya.

Sesungguhnya umat Islam saat ini sangat membutuhkan generasi muda yang mampu menguasai Ilmu-ilmu penting yang dibutuhkan oleh umat Islam. Seperti Ilmu kedokteran, tehnik, ekonomi dan ilmu-ilmu lainnya yang termasuk fardu kifayah. Supaya mereka dapat menjadi pelayan agamanya dan tidak bergantung kepada orang lain.

Suatu hal yang perlu diingatkan, yaitu harus ada sekelompok umat Islam yang mempelajari ilmu-ilmu kemiliteran dan menguasai alat-alat perang. Supaya mereka bisa mengikuti zaman di mana mereka hidup. Dan mereka bisa mempertahankan tempat-tempat suci mereka., kehormatan dan keyakinan mereka. Di samping itu, harus ada juga sebagian umat Islam yang menekuni ilmu-ilmu frofesi dan ilmu-ilmu terapan. Supaya umat Islam bisa melengkapi diri dengan semua disiplin ilmu yang bermanfaat dan berguna bagi mereka. Namun, yang terpenting di dalam setiap ilmu adalah keikhlasan dalam menjalankan dan menggunakannya untuk kepentingan agama, akidah dan dakwah Islam.

Mudah-mudahan anak-anak umat Islam yang saat ini tengah bersiap-siap memasuki tahun ajaran baru bisa memahami isu-isu yang penting ini, di dalam bingkai misi yang agung. Wahai anak-anak Islam! Wahai para pelajar! Wahai orang-orang yang dimuliakan oleh Allah dengan menimba warisan Nabi. Takutlah kepada Allah dalam menuntut ilmu, tekunilah ilmu agama, ikutilah metode yang benar dan ambillah dari orang-orang yang kredibel. Wahai para guru! Wahai orang-orang yang mengemban amanat pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak belahan jiwa umat Islam. Takutlah kepada Allah dalam menghadapi mereka. Ketahuilah bahwa anda dimintai pertanggung jawaban atas mereka di hadapan Allah. Jadilah suri tauladan bagi mereka. Jadilah contoh baik yang bisa ditiru akhlak dan keistiqomahannya. Didiklah mereka dengan pendidikan Islam yang benar, agar proses pembelajaran dan pendidikan berjalan dengan langkah-langkah yang benar. Anda adalah pendidik sebelum menjadi pendikte .

Sedangkan para ulama, pewaris para Nabi yang dikaruniai Allah ilmu dan pengetahuan memiliki kewajiban yang sangat besar dalam menyampaikan dan mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada umat Islam. Juga dalam mengembalikan posisi ilmu agama dan menghidupkan mejlis-majlis dzikir ( pengajian ) di masjid-masjid dan lembaga-lembaga pendidikan, agar tidak temasuk menyembunyikan ilmu, karena hal itu diharamkan. Diserukan kepada orang-orang yang diberi amanat untuk membuat perencanaan dan menyusun kurikulum pelajaran bagi putra-putri umat Islam, agar senantiasa takut kepada Allah dalam konteks mereka. Hendaknya mereka memuaskan kepada ilmu-ilmu agama. Menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan kurikulum mereka, dan mengikis habis hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama., norma-norma dan prinsip-prinsip kita. Supaya sekolah-sekolah, pesantren-pesantren dan universitas-universitas berubah menjadi panggung-panggung kebaikan dan petunjuk. Serta menjadi arena-arena pembinaan dan pendidikan .

Kemudian ajakan kepada para wali murid agar memahami peran besar mereka dalam mengontrol putra-putri mereka, mengawasi tingkah laku mereka, dan menciptakan hubungan yang kuat antara keluarga dan sekolah. Sehiangga terjadi kerja sama yang konstruktif dan produktif (sinergi) dalam tataran ilmu, praktik, bimbingan dan pendidikan.

Ayyuhal musimun! Ini adalah isyarat singkat dalam dalam sebuah tugas yang berat. Saya berharap bahwa pengangkatan topik ini bertepatan dengan permulaan tahun ajaran baru dapat menjadi pendorong semangat kita semua. Dan masing-masing kita bisa memahami perannya, sehingga masyarakat muslim kita bisa mendapatkan kemuliaan, ketahanan, perlindungan, kejayaan dan kekuatan yang diharapkannya .

Kita memohon kepada Allah agar berkenan menganugrahi kita ilmu yang bermanfaat dan amal yang shahih. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia .



بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

Amma ba’du :

Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah. Ketahuilah nilai ilmu dan berusahalah semaksimal mungkin untuk mendalami agama anda. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda ,

‘’ Barang siapa yang dikehendaki baik oleh allah, niscaya dia akan memberinya kemampuan untuk memahami ilmu agama.’’ ( HR. Al-Bukhari, 71,dan Muslim. 1037 )

Bertanyalah kepada ahli ilmu tentang hal-hal yang sulit anda mengerti dan istilah waktu-waktu anda dengan ilmu yang bermanfaat . Karena ilmu tidak dibatasi dengan usia tertentu, tidak terikat dengan priode tertentu dan tidak berakhir dengan keberhasilan meraih ijazah yang tinggi .

Ketahuilah bahwa anda sedang berada di zaman saat anda tidak bisa keluar dari fitnah kecuali dengan senjata ilmu yang bermanfaat. Jika dunia menyaksikan antusiasme dan kebangkitan, maka sudah seharusnya bila fenomena ini dilengkapi dengan mahkota ilmu yang bermanfaat. Hal itu dimaksudkan untuk mengokohkan pondasi-pondasinya, mengendalikan arah perjalanannya dan menjaganya dari penyimpangan, dengan izin Allah .

Begitulah ! Setiap pelaku dakwah dan petugas pengawas sosial harus memiliki tentang apa yang mereka dakwahkan dan menguasai metode dakwah dengan hikmah (bijaksana) dan nasihat yang baik. Supaya tidak terjadi tindakan yang melampui hikmah atau terjerumus ke dalam aksi yang berbahaya yang pada dasarnya terjadi akibat kurangnya penguasaan ilmu.

Salah satu penomena berbahaya dalam konteks ini ialah fenomena ‘’sok tahu’’. Sebagian orang mengklaim diri sebagian ulama, padahal tidak demikian adanya. Bahkan mereka tidak memiliki ilmu sedikitpun. Lalu mereka bersikap ‘’kurang ajar’’terhadap Allah dan dan RasulNya. Misalnya menerbitkan fatwa dan mendiskreditkan para ulama yang diakui kredibilitasnya. Hal ini tentu akan menimbulkan bahaya besar yang mengancam masyarakat .

Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah. Pelajarilah ilmu yang bermanfaat bagi anda. Dan ikutilah ilmu dengan amal dan dakwah kepada Allah. Semuanya harus dilakukan dengan langkah yang terukur; tidak berlebihan dan tidak ceroboh. Dengan begitu akan diperoleh manfaat yang besar dan kebaikan yang luas, dengan izin Allah.

Ucapkanlah shalawat dan salam kepada orang yang mengajarkan kepada manusia, Nabi terbaik dan Rasul pilihan. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab :56)

( Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun, edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya . )

Dakwah

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a-yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. Orang yang menyampaikan dakwah disebut "Da'i" sedangkan yang menjadi obyek dakwah disebut "Mad'u". Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah "Da'i".
Tarbiyah

Proses tarbiyah tidak terlepas dari adanya daí dan madú atau murabbi dan mutarabbi, proses dan wajihah (lembaga). Keduanya adalah hal yang harus ada dalam proses tarbiyah. Proses tarbiyah ini memiliki tahapan sebagai berikut:

tabligh (dakwah secara umum) sebagai alat propaganda

da'wah fardiyah (pendekatan personal) sebagai sarana pemilihan calon mutarabbi untuk dibina.

takwiniyah (pembentukan) sebagai sarana penggodokan kader agar menjadi seorang muslim sejati yang memiliki dedikasi dan semangat juang tinggi dalam menda'wahkan islam.

tanfizhiyah (pelaksanaan) sebagai ajang amal untukberkiprah dalam dunia da'wah.
Murabbi (Pendidik)

Berperan sangat vital sebagai penanggungjawab jalannya proses tarbiyah. Baik buruknya perkembangan madú tergantung dari usaha para daí maupun murabbi. Maka dari itu hendaklah seorang murabbi:

memiliki kepribadian Islam dan dai

memiliki fikrah (pola pikir) dan yang benar tentang Islam, akidah yang dalam dan amal yang berkelanjutan.

Memiliki tsaqofah islamiyah yang cukup dan menguasai madah (materi-materi) tarbiyah.

berkepribadian membimbing, memabntu dan mempunyai pola hubungan sosial yang baik.

mempenyai kecenderungan kepada dakwah.

Mutarabbi

Untuk dapat mengikuti proses tarbiyah dengan baik, maka seorang mutarabbi hendaknya memiliki karakter:

berkepribadian hanif dan kesiapan menerima tarbiyah

memiliki niat yang kuta untuk merubah diri dan orang lain.

bersih dari unsur yang merugikan diri sendiri, keluarga dan orang lain

memiliki potensi untuk ambil bagian dalam membangun kejayaan umat.
Fiqhud-dakwah

Ilmu yang memahami aspek hukum dan tatacara yang berkaitan dengan dakwah, sehingga para muballigh bukan saja paham tentang kebenaran Islam akan tetapi mereka juga didukung oleh kemampuan yang baik dalam menyampaikan Risalah al Islamiyah.
Dakwah Fardiah

Dakwah Fardiah merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya dakwah fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib. Termasuk kategori dakwah seperti ini adalah menasihati teman sekerja, teguran, anjuran memberi contoh. Termasuk dalam hal ini pada saat mengunjungi orang sakit, pada waktu ada acara tahniah (ucapan selamat), dan pada waktu upacara kelahiran (tasmiyah).
Dakwah Ammah

Dakwah Ammah merupakan jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khutbah (pidato).

Dakwah Ammah ini kalau ditinjau dari segi subyeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-doal dakwah.

Hukum Berdo'a dengan Tawassul

Hukum Berdo'a dengan Tawassul  
Ditulis oleh Dewan Asatidz

Pengertian Tawassul
              Pemahaman tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat islam selama ini adalah bahwa Tawassul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT.
• Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintainya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut.
• Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya da. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.
• Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa. Banyak sekali cara untuk berdo'a agar dikabulkan Allah, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan mendahuluinya dengan bacaan alhamdulillah dan sholawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar do'a yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah s.w.t. Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan.

Tawassul dengan amal sholeh kita
              Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul terhadap Allah SWT dengan perantaraan perbuatan amal sholeh, sebagaimana orang yang sholat, puasa, membaca al-Qur’an, kemudian mereka bertawassul terhadap amalannya tadi. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam goa, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.. (Ibnu Taimiyah mengupas masalah ini secara mendetail dalam kitabnya Qoidah Jalilah Fii Attawasul Wal wasilah hal 160)

Tawassul dengan orang sholeh 
               Adapun yang menjadi perbedaan dikalangan ulama’ adalah bagaimana hukumnya tawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai amrtabat dan derajat tinggi dei depan Allah. sebagaimana ketika seseorang mengatakan : ya Allah aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad atau Abu bakar atau Umar dll.
Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), pada intinya adalah tawassul pada amal perbuatannnya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’.

Dalil-Dalil Tentang Tawassul
                Dalam setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung dengan adanya dalil yang dapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. Dan secara otomatis pendapat tersebut tidak mempunyai nilai yang berarti, demikian juga dengan permasalahan ini, maka para ulama yang mengatakan bahwa tawassul diperbolehkan menjelaskan dalil-dalil tentang diperbolehkannya tawassul baik dari nash al-Qur’an maupun hadis, sebagai berikut:

A. Dalil dari alqur’an.

1. Allah SWT berfirman dalam surat Almaidah, 35 :
ياأيها الذين آمنوااتقواالله وابتغوا إليه الوسيلة
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan."
Suat Al-Isra', 57:


 أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

17.

57. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka [857] siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. [857] Maksudnya: Nabi Isa a.s., para malaikat dan 'Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Lafadl Alwasilah dalam ayat ini adalah umum, yang berarti mencakup tawassul terhadap dzat para nabi dan orang-orang sholeh baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, ataupun tawassul terhadap amal perbuatan yang baik.


2. Wasilah dalam berdoa sebetulnya sudah diperintahkan sejak jaman sebelum Nabi Muhammad SAW. QS 12:97 mengkisahkan saudara-saudara Nabi Yusuf AS yang memohon ampunan kepada Allah SWT melalui perantara ayahandanya yang juga Nabi dan Rasul, yakni N. Ya'qub AS. Dan beliau sebagai Nabi sekaligus ayah ternyata tidak menolak permintaan ini, bahkan menyanggupi untuk memintakan ampunan untuk putera-puteranya (QS 12:98).


قَالُواْ يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ. قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

97. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".
98. N. Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Di sini nampak jelas bahwa sudah sangat lumrah memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan menggunakan perantara orang yang mulia kedudukannya di sisi Allah SWT. Bahkan QS 17:57 dengan jelas mengistilahkan "ayyuhum aqrabu", yakni memilih orang yang lebih dekat (kepada Allah SWT) ketika berwasilah.

3. Ummat Nabi Musa AS berdoa menginginkan selamat dari adzab Allah SWT dengan meminta bantuan Nabi Musa AS agar berdoa kepada Allah SWT untuk mereka. Bahkan secara eksplisit menyebutkan kedudukan N. Musa AS (sebagai Nabi dan Utusan Allah SWT) sebagai wasilah terkabulnya doa mereka. Hal ini ditegaskan QS 7:134 dengan istilahبِمَا عَهِدَ عِندَكَDengan (perantaraan) sesuatu yang diketahui Allah ada pada sisimu (kenabian).
Demikian pula hal yang dialami oleh Nabi Adam AS, sebagaimana QS 2:37


فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Kemudian Nabi Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."Kalimat yang dimaksud di atas, sebagaimana diterangkan oleh ahli tafsir berdasarkan sejumlah hadits adalah tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, yang sekalipun belum lahir namun sudah dikenalkan namanya oleh Allah SWT, sebagai nabi akhir zaman.


4. Bertawassul ini juga diajarkan oleh Allah SWT di QS 4:64 bahkan dengan janji taubat mereka pasti akan diterima. Syaratnya, yakni mereka harus datang ke hadapan Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT di hadapan Rasulullah SAW yang juga mendoakannya.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

"Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

B. Dalil dari hadis.

a. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW sebelum lahir

Sebagaimana nabi Adam AS pernah melakukan tawassul kepada nabi Muhammad SAW. Imam Hakim Annisabur meriwayatkan dari Umar berkata, bahwa Nabi bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لما اقترف آدم الخطيئة قال : يا ربى ! إنى أسألك بحق محمد لما غفرتنى فقال الله : يا آدم كيف عرفت محمدا ولم أخلقه قال : يا ربى لأنك لما خلقتنى بيدك ونفخت فيّ من روحك رفعت رأسى فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لاإله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى إسمك إلا أحب الخلق إليك فقال الله : صدقت يا آدم إنه لأحب الخلق إلي، ادعنى بحقه فقد غفرت لك، ولولا محمد ما خلقتك (أخرجه الحاكم فى المستدرك وصححه ج : 2 ص: 615)
"Rasulullah s.a.w. bersabda:"Ketika Adam melakukan kesalahan, lalu ia berkata Ya Tuhanku, sesungguhnya aku memintaMu melalui Muhammad agar Kau ampuni diriku". Lalu Allah berfirman:"Wahai Adam, darimana engkau tahu Muhammad padahal belum aku jadikan?" Adam menjawab:"Ya Tuhanku ketika Engkau ciptakan diriku dengan tanganMu dan Engkau hembuskan ke dalamku sebagian dari ruhMu, maka aku angkat kepalaku dan aku melihat di atas tiang-tiang Arash tertulis "Laailaaha illallaah muhamadun rasulullah" maka aku mengerti bahwa Engkau tidak akan mencantumkan sesuatu kepada namaMu kecuali nama mahluk yang paling Engkau cintai". Allah menjawab:"Benar Adam, sesungguhnya ia adalah mahluk yang paling Aku cintai, bredoalah dengan melaluinya maka Aku telah mengampunimu, dan andaikan tidak ada Muhammad maka tidaklah Aku menciptakanmu"

Imam Hakim berkata bahwa hadis ini adalah shohih dari segi sanadnya. Demikian juga Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalail Annubuwwah, Imam Qostholany dalam kitabnya Almawahib 2/392 , Imam Zarqoni dalam kitabnya Syarkhu Almawahib Laduniyyah 1/62, Imam Subuki dalam kitabnya Shifa’ Assaqom dan Imam Suyuti dalam kitabnya Khosois Annubuwah, mereka semua mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih.

Dan dalam riwayat lain, Imam Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan redaksi :


فلولا محمد ما خلقت آدم ولا الجنة ولا النار (أخرجه الحاكم فى المستدرك ج: 2 وص:615)


Beliau mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih segi sanad, demikian juga Syekh Islam Albulqini dalam fatawanya mengatakan bahwa ini adalah shohih, dan Syekh Ibnu Jauzi memaparkan dalam permulaan kitabnya Alwafa’ , dan dinukil oleh Ibnu Kastir dalam kitabnya Bidayah Wannihayah 1/180.

Walaupun dalam menghukumi hadis ini tidak ada kesamaan dalam pandangan ulama’, hal ini disebabkan perbedaan mereka dalam jarkh wattta’dil (penilaian kuat dan tidak) terhadap seorang rowi, akan tetapi dapat diambil kesimpulan bahwa tawassul terhadap Nabi Muhammad SAW adalah boleh.

b. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW dalam masa hidupnya.

Diriwatyatkan oleh Imam Hakim :


عن عثمان بن حنيف قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم وجاءه رجل ضرير
فشكا إليه ذهاب بصره، فقال : يا رسول الله ! ليس لى قائد وقد شق علي فقال رسول الله عليه وسلم : :ائت الميضاة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم قل : اللهم إنى أسألك وأتوجه إليك لنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إنى أتوجه بك إلى ربك فيجلى لى عن بصرى، اللهم شفعه فيّ وشفعنى فى نفسى، قال عثمان : فوالله ما تفرقنا ولا طال بنا الحديث حتى دخل الرجل وكأنه لم يكن به ضر. (أخرجه الحاكم فى المستدرك)


Dari Utsman bin Hunaif: "Suatu hari seorang yang lemah dan buta datang kepada Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai orang yang menuntunku dan aku merasa berat" Rasulullah berkata"Ambillah air wudlu, lalu beliau berwudlu dan sholat dua rakaat, dan berkata:"bacalah doa (artinya)" Ya Allah sesungguhnya aku memintaMu dan menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat". Utsman berkata:"Demi Allah kami belum lagi bubar dan belum juga lama pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar bugar". (Hadist riwayat Hakim di Mustadrak)

Beliau mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih dari segi sanad walaupun Imam Bukhori dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Imam Dzahabi mengatakatan bahwa hadis ini adalah shohih, demikian juga Imam Turmudzi dalam kitab Sunannya bab Daa’wat mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan shohih ghorib. Dan Imam Mundziri dalam kitabnya Targhib Wat-Tarhib 1/438, mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Nasai, Ibnu Majah dan Imam Khuzaimah dalam kitab shohihnya.

c. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW setelah meninggal.

Diriwayatkan oleh Imam Addarimi :
عن أبى الجوزاء أ وس بن عبد الله قال : قحط أهل المدينة قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة فقالت : انظروا قبر النبي فاجعلوا منه كوا إلى السماء حتى لا يكون بينه وبين السماء سقف قال : ففعلوا فمطروا مطرا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتى تفتقط من السحم فسمي عام الفتق ( أخرجه الإمام الدارمى ج : 1 ص : 43)

Dari Aus bin Abdullah: "Sautu hari kota Madina mengalami kemarau panjang, lalu datanglah penduduk Madina ke Aisyah (janda Rasulullah s.a.w.) mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: "Lihatlah kubur Nabi Muhammad s.a.w. lalu bukalah sehingga tidak ada lagi atap yang menutupinya dan langit terlihat langsung", maka merekapun melakukan itu kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk" (Riwayat Imam Darimi)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori :
عن أنس بن مالك إن عمر بن خطاب كان إذا قطحوا استسقى بالعباس بن عبد المطلب فقال : اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا ننتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا قال : فيسقون (أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137 )

Riwayat Bukhari: dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata:"Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepadamu melalui nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami bertawassul dengan paman nabi kami maka turunkanlau hujan kepada, lalu turunlah hujan.

d. Nabi Muhammad SAW melakukan tawassul .
عن أبى سعيد الحذري قال : رسول الله صلى الله عليه وسلم : من خرج من بيته إلى الصلاة، فقال : اللهم إنى أسألك بحق السائلين عليك وبحق ممشاى هذا فإنى لم أخرج شرا ولا بطرا ولا رياءا ولا سمعة، خرجت إتقاء شخطك وابتغاء مرضاتك فأسألك أن تعيذنى من النار، وأن تغفر لى ذنوبى، إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، أقبل الله بوجهه واستغفر له سبعون ألف ملك (أخرجه بن ماجه وأحمد وبن حزيمة وأبو نعيم وبن سنى).


Dari Abi Said al-Khudri: Rasulullah s.a.w. bersabda:"Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk melaksanakan sholat, lalu ia berdoa: (artinya) Ya Allah sesungguhnya aku memintamu melalui orang-orang yang memintamu dan melalui langkahku ini, bahwa aku tidak keluar untuk kejelekan, untuk kekerasan, untuk riya dan sombong, aku keluar karena takut murkaMu dan karena mencari ridlaMu, maka aku memintaMu agar Kau selamatkan dari neraka, agar Kau ampuni dosaku sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali diriMu", maka Allah akan menerimanya dan seribu malaikat memintakan ampunan untuknya". (Riwayat Ibnu Majad dll.).

Imam Mundziri mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dengan sanad yang ma'qool, akan tetap Alhafidz Abu Hasan mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan.( Targhib Wattarhib 2/ 119).


Alhafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Abu Na’im dan Ibnu Sunni.(Nataaij Alafkar 1/272).

Imam Al I’roqi dalam mentakhrij hadis ini dikitab Ikhya’ Ulumiddin mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan, (1/323).
Imam Bushoiri mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan hadis ini shohih, (Mishbah Alzujajah 1/98).

Pandangan Para Ulama’ Tentang Tawassul
Untuk mengetahui sejauh mana pembahasan tawassul telah dikaji para ulama, ada baiknya kita tengok pendapat para ulama terdahulu. Kadang sebagian orang masih kurang puas, jika hanya menghadirkan dalil-dalil tanpa disertai oleh pendapat ulama’, walaupun sebetulnya dengan dalil saja tanpa harus menyartakan pendapat ulama’ sudah bisa dijadikan landasan bagi orang meyakininya. Namun untuk lebih memperkuat pendapat tersebut, maka tidak ada salahnya jika disini dipaparkan pandangan ulama’ mengenai hal tersebut.


Pandangan Ulama Madzhab

Pada suatu hari ketika kholifah Abbasiah Al-Mansur datang ke Madinah dan bertemu dengan Imam Malik, maka beliau bertanya:"Kalau aku berziarah ke kubur nabi, apakah menghadap kubur atau qiblat? Imam Malik menjawab:"Bagaimana engkau palingkan wajahmu dari (Rasulullah) padahal ia perantaramu dan perantara bapakmu Adam kepada Allah, sebaiknya menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaat maka Allah akan memberimu syafaat". (Al-Syifa' karangan Qadli 'Iyad al-Maliki jus: 2 hal: 32).

Demikian juga ketika Imam Ahmad Bin Hambal bertawassul kepada Imam Syafi’i dalam doanya, maka anaknya yang bernama Abdullah heran seraya bertanya kepada bapaknya, maka Imam Ahmad menjawab :"Syafii ibarat matahagi bagi manusia dan ibarat sehat bagi badan kita"
 (شواهد الحق ليوسف بن إسماعيل النبهانى ص:166)


Demikian juga perkataan imam syafi’i dalam salah satu syairnya:
آل النبى ذريعتى # وهم إليه وسيلتى
أرجو بهم أعطى غدا # بيدى اليمن صحيفتى
(العواصق المحرقة لأحمد بن حجر المكى ص:180)

"Keluarga nabi adalah familiku, Mereka perantaraku kepadanya (Muhammad), aku berharap melalui mereka, agar aku menerima buku perhitunganku di hari kiamat nanti dengan tangan kananku"

Pandangan Imam Taqyuddin Assubuky
Beliau memperbolehkan dan mengatakan bahwa tawassul dan isti’anah adalah sesuatu yang baik dan dipraktekkan oleh para nabi dan rosul, salafussholeh, para ulama,’ serta kalangan umum umat islam dan tidak ada yang mengingkari perbuatan tersebut sampai datang seorang ulama’ yang mengatakan bahwa tawassul adalah sesuatu yang bid’ah. (Syifa’ Assaqom hal 160)

Pandangan Ibnu Taimiyah
Syekh Ibnu Taimiyah dalam sebagian kitabnya memperbolehkan tawassul kepada nabi Muhammad SAW tanpa membedakan apakah Beliau masih hidup atau sudah meninggal. Beliau berkata : “Dengan demikian, diperbolehkan tawassul kepada nabi Muhammad SAW dalam doa, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi :
أن النبي علم شخصا أن يقول : اللهم إنى أسألك وأتوسل إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إنى أتوجه بك إلى ربك فيجلى حاجتى ليقضيها فشفعه فيّ (أخرجه الترميذى وصححه).


Rasulullah s.a.w. mengajari seseorang berdoa: (artinya)"Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu dan bertwassul kepadamu melalui nabiMu Muhammad yang penuh kasih, wahai Muhammad sesungguhnya aku bertawassul denganmu kepada Allah agar dimudahkan kebutuhanku maka berilah aku sya'faat". Tawassul seperti ini adalah bagus (fatawa Ibnu Taimiyah jilid 3 halaman 276)

Pandangan Imam Syaukani

Beliau mengatakan bahwa tawassul kepada nabi Muhammad SAW ataupun kepada yang lain ( orang sholeh), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para shohabat.

Pandangan Muhammad Bin Abdul Wahab.


Beliau melihat bahwa tawassul adalah sesuatu yang makruh menurut jumhur ulama’ dan tidak sampai menuju pada tingkatan haram ataupun bidah bahkan musyrik. Dalam surat yang dikirimkan oleh Syekh Abdul Wahab kepada warga qushim bahwa beliau menghukumi kafir terhadap orang yang bertawassul kepada orang-orang sholeh., dan menghukumi kafir terhadap AlBushoiri atas perkataannya YA AKROMAL KHOLQI dan membakar dalailul khoirot. Maka beliau membantah : “ Maha suci Engkau, ini adalah kebohongan besar. Dan ini diperkuat dengan surat beliau yang dikirimkan kepada warga majma’ah ( surat pertama dan kelima belas dari kumpulan surat-surat syekh Abdul Wahab hal 12 dan 64, atau kumpulan fatwa syekh Abdul Wahab yang diterbitkan oleh Universitas Muhammad Bin Suud Riyad bagian ketiga hal 68)

Dalil-dalil yang melarang tawassul
Dalil yang dijadikan landasan oleh pendapat yang melarang tawassul adalah sebagai berikut:
1. Surat Zumar, 2:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
Orang yang bertwassul kepada orang sholih maupun kepada para kekasih Allah, dianggap sama dengan sikap orang kafir ketika menyembah berhala yang dianggapnya sebuah perantara kepada Allah.
Namun kalau dicermati, terdapat perbedaan antara tawassul dan ritual orang kafir seperti disebutkan dalam ayat tersebut: tawassul semata dalam berdoa dan tidak ada unsur menyembah kepada yang dijadikan tawassul , sedangkan orang kafir telah menyembah perantara; tawassul juga dengan sesuatu yang dicintai Allah sedangkan orang kafir bertwassul dengan berhala yang sangat dibenci Allah.

2. Surah al-Baqarah, 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

2. 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Allah Maha dekat dan mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaNya. Jika Allah maha dekat, mengapa perlu tawassul dan mengapa memerlukan sekat antara kita dan Allah.
Namun dalil-dalil di atas menujukkan bahwa meskipun Allah maha dekat, berdoa melalui tawassul dan perantara adalah salah satu cara untuk berdoa. Banyak jalan untuk menuju Allah dan banyak cara untuk berdoa, salah satunya adalah melalui tawassul.

3. Surat Jin, ayat 18:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً

72. 18. Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
Kita dilarang ketika menyembah dan berdoa kepada Allah sambil menyekutukan dan mendampingkan siapapun selain Allah.
Seperti ayat pertama, ayat ini dalam konteks menyembah Allah dan meminta sesuatu kepada selain Allah. Sedangkan tawassul adalah meminta kepada Allah, hanya saja melalui perantara.

Kesimpulan
Tawassul dengan perbuatan dan amal sholeh kita yang baik diperbolehkan menurut kesepakatan ulama’. Demikian juga tawassul kepada Rasulullah s.a.w. juga diperboleh sesuai dalil-dalil di atas. Tidak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad SAW mempunyai kedudukan yang mulia disisi Allah SWT, maka tidak ada salahnya jika kita bertawassul terhadap kekasih Allah SWT yang paling dicintai, dan begitu juga dengan orang-orang yang sholeh.

Selama ini para ulama yang memperbolehkan tawassul dan melakukannya tidak ada yang berkeyakinan sedikitpun bahwa mereka (yang dijadikan sebagai perantara) adalah yang yang mengabulkan permintaan ataupun yang memberi madlorot. Mereka berkeyakinan bahwa hanya Allah lah yang berhak memberi dan menolak doa hambaNya. Lagi pula berdasarkan hadis-hadis yang telah dipaparkan diatas menunjukakn bahwa perbuatan tersebut bukan merupakan suatu yang baru dikalangan umat islam dan sudah dilakukan para ulama terdahulu. Jadi jikalau ada umat islam yang melakukan tawassul sebaiknya kita hormati mereka karena mereka tentu mempunyai dalil dan landasan yang cukup kuat dari Quran dan hadist.

Tawassul adalah masalah khilafiyah di antara para ulama Islam, ada yang memperbolehkan dan ada yang melarangnya, ada yang menganggapnya sunnah dan ada juga yang menganggapnya makruh. Kita umat Islam harus saling menghormati dalam masalah khilafiyah dan jangan sampai saling bermusuhan. Dalam menyikapi masalah tawassul kita juga jangan mudah terjebak oleh isu bid'ah yang telah mencabik-cabik persatuan dan ukhuwah kita. Kita jangan dengan mudah menuduh umat Islam yang bertawassul telah melakukan bid'ah dan sesat, apalagi sampai menganggap mereka menyekutukan Allah, karena mereka mempunyai landasan dan dalil yang kuat. Tidak hanya dalam masalah tawassul, sebelum kita mengangkat isu bid'ah pada permasalahan yang sifatnya khilafiyah, sebaiknya kita membaca dan meneliti secara baik dan komprehensif masalah tersebut sehingga kita tidak mudah terjebak oleh hembusan teologi permusuhan yang sekarang sedang gencar mengancam umat Islam secara umum.

Memang masih banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang muslim awam dalam melakukan tawassul, seperti menganggap yang dijadikan tawassul mempunyai kekuatan, atau bahkan meminta-minta kepada orang yang dijadikan perantara tawassul, bertawassul dengan orang yang bukan sholeh tapi tokoh-tokoh masyarakat yang telah meninggal dunia dan belum tentu beragama Islam, atau bertawassul dengan kuburan orang-orang terdahulu, meminta-minta ke makam wali-wali Allah, bukan bertawassul kepada para para ulama dan kekasih Allah. Itu semua tantangan dakwah kita semua untuk kita luruskan sesuai dengan konsep tawassul yang dijelaskan dalil-dalil di atas.
Wallahu a'lam bissowab

Selasa, 12 Oktober 2010

AGENDA KEGIATAN MASJID DAARUT TAUHIID BANDUNG

 
Agenda Kegiatan
No.  Kegiatan                       Hari                     Waktu                          Pemateri                                 I  
Kegiatan Rutin 
1.  Pengajian umum                  Ahad            10.00 - 12.00 WIB           Tim Asaatidz DT / Ulama      
2.  Pengajian Al Hikam            Kamis           15.00 - 16.00 WIB           KH. Abdullah Gymnastiar    .
3.  Kajian Tafsir Al Qur'an       Kamis           18.00 - 19.00 WIB          Ust. Abdul Wahab,Lc          . 
4.  Pengajian Ma'rifatullah        Kamis           19.15 - 21.00 WIB           KH. Abdullah Gymnastiar  .
5.  Tahajud & Muhasabah       Jum'at /ahad  03.00 - 04.00 WIB          Aa Gym / Tim Asaatidz      .
6.  Kajian Ba'da Magrib         setiap hari       18.00 - 19.00 WIB          Tim Asaatidz DT                   .
7.  Siaran MQ Pagi 1027Fm  setiap hari        05.00 - 06.00 WIB        Aa Gym & Tim Asatidz        
Kegiatan lain.
1.  Pengajian Mitra Masjid
2.  Pengajian PAW ( Anak-anak)
3.  Pelatihan Pengurusan Jenazah
4.  Pelatihan Tarbiyatul Maut
5.  Pelatihan Manajemen Masjid
6.  Silaturahim ke Tokoh Masyarakat

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَاْليَوْمِ ْالآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى

 الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهِ فَعَسَى أُوْلَئِكَ أَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang – orang yang beriman
  kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan
  tidak takut kepada apapun kecuali hanya takut kepada Allah. maka mudah – mudahan
  mereka termasuk orang – orang yang mendapat petunjuk”. ( QS 9.At Taubah : 18 )”.



 

Senin, 11 Oktober 2010

Renovasi Masjid


Pusat Pengembangan Wakaf
Sejarah Pusbang Wakaf Pesantren Daarut Tauhiid merupakan salah satu pesantren yang mendapatkan amanah dari Allah dan kepercayaan dari ummat untuk mengurus, mengelola dan mengembangkan aset wakaf sebagai sarana ummat melejar menempa ilmu untuk mengenal allah. Dengan segala keterbatasan, 18 (delapan belas) tahun telah berlalu amanah itu di jaga dan di pelihara dengan bnaik hingga saat ini, aset wakaf yang ada saat ini yang di pergunakan untuk kegiatan perekonomian, pendidikan, da�wah dan sosial seluas + 9.882 M2. Untuk mengoptimalkan dan mengembangkan aset wakaf yang ada maka pengurus yayasan Daarut Tauhiid membentuk Divisi khusus yang bertanggungjawab atas pengelolaan wakaf, yang bernama PUSAT PENGEMBANGAN WAKAF DAARUT TAUHIID (Pusbang Wakaf-DT), yang sebelumnya pengelolaan berada dibawah tanggungjawab Badan pengurus harian Yayasan (BPH).

Program Pusbang Wakaf
Sekretariat Pengembangan Penghimpunan Pusat Pengembagnan Wakaf mengemban amanah untuk mengoptimalkan dan mengembangkan wakaf sehingga seluruh aset wakaf yang ada dapat di manfaatkan secara maksimal dan dapat memfasilitasi kegiatan Pendidikan, da�wah dan sosial yang dilaksanakan oleh pesantren Daarut Tauhiid. VISI Menjadi lembaga wakaf independen, profesional dan penggerak ummat untuk mewujudkan generasi ahli dzikir, fikir dan ikhtiar MISI Menghimpun wakaf untuk meningkatkan keberkahan harta muwakif -. Mengoptimalkan wakaf dengan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan ummat -. Mengembangkan potensi wakaf untuk menunjang kegiatan pendidikan, da�wah dan sosial Selengkapnya...
 

Materi Khutbah

Bekal Haji Mabrur Sesuai Tuntunan Rasul 

Berhaji sesuai sunnah dengan konteks membawa perbekalan yang baik ketika berhaji sesuai sunnah nabawiyah. Tak perlu lagi diragukan bahwa Islam adalah agama yang mudah, agama yang diridhai oleh Alloh bagi para hamba-Nya dengan segala kemudahan dan tidak sama sekali terdapat kesulitan didalamnya. Sebagaimana yang Alloh firmankan,

“... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” (QS. Al Baqarah : 185 ).
Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah tabaraaka wa ta’ala tak lain ialah untuk mempermudah agama yang telah sempurna ini dan tidak membelenggu serta memberatkan setiap pemeluknya, firman Allah subhanahu wa ta’ala :

 “ (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung. “ ( QS. Al A’raaf : 157 )

Pun juga dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang Islam sebagai agama yang mudah. Dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam beliau bersabda:

“ Sesungguhnya agama ini adalah agama yang mudah, dan tidaklah seseorang itu melampaui batas dalam menjalankan agama ini kecuali akan kalah dengan sendirinya. Oleh karena itu berusahalah untuk mengamalkan agama ini dengan benar, dan kalau tidak bisa sempurna, maka berusahalah untuk mendekati kesempurnaan. Dan bergembiralah kalian dengan pahala bagi kalian yang sempurna walau pun amalan kalian tidak sempurna. Dan upayakan menguatkan semangat beribadah dengan memperhatikan ibadah di pagi hari dan di sore hari dan di sebagian malam (yakni waktu-waktu di mana kondisi badan sedang segar untuk beribadah) ”. (HR. Al-Bukhari dalam Shahih nya Kitabul Iman bab Ad-Dienu Yusrun hadits ke 39, An-Nasa'i dalam Sunan nya Kitabul Iman bab Ad-Dienu Yusrun hadits ke 5049, Ahmad dalam Musnad nya jilid 4 hal. 422).
Sungguh kemudahan yang tidak memberatkan bagi setiap pemeluknya adalah dapat kita rasakan bila senantiasa segala amal dan perbuatan memiliki acuan yang benar dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Nah, pada kali ini penulis ingin menguraikan beberapa hal yang terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam yang ke 5.
Ada beberapa perbekalan yang dapat dibawa oleh para kaum muslimin dalam melengkapi ibadah mulia tersebut menjadi sempurna. Sebagaimana sebuah kaidah bahwa sempurnanya keimanan adalah selaras dengan ucapan dan amal perbuatan. Berikut beberapa perbekalan yang dapat dibawa para jama’ah haji sebelum memulia perjalannya, selain melengkapi persiapan materi, fisik, dan mental.
Bekal paling utama dan pertama ialah, hendaknya setiap jama’ah haji mengikhlaskan niatnya, bukanlah ibadah haji untuk melakukan perbuatan riya, sum’ah, atau bahkan takabbur. Sebagaimana Alloh berfirman.
“ Kecuali orang-orang yang Taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka Karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisaa : 146 ).

 Selain itu terdapat pula didalam hadist qudsi yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallohu ‘anha, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Rabb-nya azza wa jalla, Alloh berfirman :

 Sesungguhnya Alloh telah menulis setiap kebaikan dan kejelekan, kemudian Dia menjelaskan: “ Barangsiapa berniat melakukan sebuah kebaikan namun ia mengurungkannya, maka Alloh telah menulis untuknya satu kebaikan yang sempurna, tetapi apabila ia melaksanakan maka Alloh menulis untuknya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat kebaikan, atau dilipat gandakan lebih dari itu. Dan barangsiapa yang berniat melakukan kejahatan namun kemudian ia mengurungkannya, maka Alloh menulis untuknya satu kebaikan yang sempurna, tetapi apabila perbuatan itu jadi ia lakukan maka Alloh menuliskan untuknya satu dosa kejahatan “. ( HR. Bukhari 6491 dan Muslim 131 )
Bekal berikutnya yang tak kalah penting ialah, hendaklah para jama’ah haji melakukan segala ibadah senantiasa berpijak kepada sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dengan itulah syarat utama sebuah ibadah setelah ikhlas diterima oleh Alloh azza wa jalla. Firman Alloh subhanahu wa ta’ala

Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". ( QS. Al A’raaf : 158 ).

 Dan didalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu ia berkata bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Semua ummatku masuk jannah kecuali yang enggan “. Maka para sahabat bertanya : “ Ya Rasulullah, siapakah yang enggan ?? “. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “ Barangsiapa mentaatiku akan masuk jannah dan barangsiapa mendurhakaiku berarti ia telah enggan (untuk masuk kedalamnya) “. ( HR. Bukhari 7280 ).

 Bekal ketiga ialah hendaknya bagi setiap jamaah haji mengumpulkan segala persiapan perbekalannya sebelum berangkat dengan harta yang halal dan baik. Sebab Alloh hanya akan menerima dan memerintahkan hamba-Nya segala sesuatu yang halal dan baik. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala

 “ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. “ ( QS. Al Baqarah : 168 ), dan di ayatnya yang lain

 “ Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang Telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu Hanya kepada-Nya saja menyembah. “ ( QS. An Nahl : 114 ).


 Begitu pula dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesungguhnya Alloh itu baik, Dia tidak menerima kecuali dari yang baik “ ( HR. Muslim : 1015 ).

 Perbekalan berikutnya ialah, hendaklah para jama’ah haji menjauhi segala bentuk perbuatan mungkar, kebid’ahan dan penyimpangan dalam tata tertib pelaksanaanya, janganlah membuang waktu secara percuma dan sia-sia untuk ke pasar dan mengunjungi tempat-tempat yang justru tidak disyariatkan terlebih lagi meminta berkah dengan sesuatu yang tidak pernah disyariatkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

 “ (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[123], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal “. ( QS. Al Baqarah : 197 ).

 Melainkan gunakanlah momentum ibadah haji untuk melakukan sebanyak-banyaknya berdzikir dan mengerjakan ibadah dengan baik dan benar serta menyempurnakan apa-apa yang menjadi rukun dan syarat dalam ibadah tersebut. Juga mentaati perintah-perintah dan larangan yang disyariatkan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :


“ Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah Karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau Karena sakit), Maka (sembelihlah) korbanyang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. apabila kamu Telah (merasa) aman, Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu Telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). dan bertakwalah kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya “. ( QS. Al Baqarah : 196 ).

 Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda : “ Contohlah cara manasik hajiku “. ( HR. Muslim : 1297 ).


Muhammad bin Fudlail berkata, “ Aku pernah melihat Ibnu Thoriq di dalam thawaf dan orang-orang lainnya yang sedang thawaf memberi jalan untuknya. Ia mengenakan sepasang sandal yang berbunyi tik-tak. Mereka mengira bahwa thawafnya pada waktu itu saja. Padahal dalam sehari semalam ia thawaf sejauh sepuluh farsakh. “ ( Hilyatul Auliyaa 5 / 82 ) -1 Farsakh = 3 Mil-



Bekal berikutnya ialah, hendaknya diantara para jama’ah haji saling membantu, saling meringankan, juga tidak memberatkan antar jama’ah haji yang lain terlebih hal tersebut dapat mempersulit jalannya ibadah seseorang, berakhlak baik terhadap sesame dan menjaga perilaku selama melaksanakan ibadah haji. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman


“ … Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. “ ( QS. Al Maidah : 2 ).

 Demikianlah sedikit tulisan yang dapat menjadi bahan bekal bagi para jamaah haji, dan penulis berharap dari tulisan ini dapat menjadikan manfaat yang baik bagi para mereka-mereka yang akan dan hendak menunaikan ibadah haji.


Dan penulis juga berdoa kepada Alloh agar senantiasa dimudahkan bagi kita semua ( kaum muslimin ) untuk memiliki kemampuan dan dimudahkan dalam melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.. amiin..


Dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Umroh ke umroh berikutnya merupakan pelebur dosa antara keduanya, dan tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga “ ( HR. Bukhari dan Muslim ).



Wallahu ‘alam bi shawwab..

Persiapan Haji :

1. Bisnis / Pekerjaan Anda

Sebelum berangkat haji, hendaknya Anda membereskan semua urusan pekerjaan atau bisnis Anda. Perjalanan haji membutuhkan waktu minimal 1 bulan penuh. Tanpa Anda membereskan semua pekerjaan atau bisnis Anda, maka ibadah haji Anda bisa terganggu. Anda bisa bayangkan, misalnya saja saat Anda sedang khusu’ melakukan tawaf, tiba-tiba ada telepon dari tanah air yang berhubungan dengan bisnis Anda. Pasti jika seperti ini ibadah Anda kaan terganggu

Karena itu, jauh-jauh hari sebelum berangkat haji, selesaikan semua urusan pekerjaan dan bisnis agar ibadah Anda bisa khusuk

2. Persiapan Fisik

Ibadah haji adalah ibadah fisik. Rangkaian manasik haji berupa kegiatan fisik yang membutuhkan stamina yang baik. Misalnya saja : thawaf 7 putaran, sai shafa-marwah 7 kali, bermalam di muzdalifah dan mina, dll. Itu semua membutuhkan stamina yang baik. Dengan pertolongan Allah subhanahu Watala dan persiapan fisik, insya-Allah Anda akan mempu menjalankannya dengan baik

Ada baiknya Anda membiasakan berolahraga sebelum berangkat haji. Olah raga hendaknya menjadi rutinitas, kalau bisa jauh-jauh hari sebelum berangkat haji.

Contoh olah raga sederhana yang bermanfaat adalah JALAN KAKI setiap hari. Ya… Jalan Kaki…Di Tanah Suci nanti Anda banyak berjalan kaki (thawaf, sai, menuju pelemparan jamrah, dll). Dengan latihan jalan kaki setiap hari, insya-Allah akan menambah lancar ibadah haji Anda. Manfaat membiasakan jalan kaki ini sudah banyak dibuktikan para jamaah haji

3. Persiapan ILMU

Persiapan ilmu sangat penting. Tidak ada alasan untuk melalaikannya. Jika Anda bisa membayar ibadah haji yang sedemikian banyak, maka sudah selayaknya Anda juga mampu mempersiapkan ilmu haji Anda. Masalah persiapan ilmu ini sudah saya bahas DISINI

4. Persiapan Mental

Persiapan mental ini juga sangta penting. Hal ini sudah saya bahas, DISINI

5. Persiapan Perbekalan

Saat Anda sudah melunasi ONH, jangan lupa juga mempersiapkan bekal Anda saat di perjalanan dan bekal bagi keluarga yang Anda ditinggalkan. bekal yang saya maksud disini tentunya finansial (uang). Anda harus membawa bekal uang secukupnya untuk keperluan di Tanah Suci. Tidak perlu banyak-banyak. Bawalah secukupnya. Dan alangkah baiknya jika membawa juga ATM, jika sewaktu-waktu diperlukan. Oya… Disana ada ATM untuk menarik uang Anda. Asal ATM Anda ada logo VISA/Mastercard, atau mercant internasional lainnya

Untuk kebutuhan keluarga di rumah, hendaknya juga Anda persiapkan baik-baik. Anda bisa melihat pengeluaran bulan sebelumnya sebagai tolak ukur. Persiapkan biaya-biaya pengeluaran rutin seperti : bayar lisrik, air, belanja sehari-hari, SPP anak, dll

6. Persiapan Peralatan Haji

Bawalah peralatan haji secukupnya. Berdasarkan pengalaman, beberapa peralatan yang penting antara lain :

- kain ihram, cukup 2 lembar (2 lembar sudah sangat cukup)

- sabuk haji, sandal (masing-masing 1 buah)

- Pakain ibadah (koko,mukena,peci,sarung,gamis,dll) secukupnya. Anda bisa juga membeli pakain-pakaian ini di tanah suci. Harganya juga murah. Banyak baju muslim import dari China

- Perlengkapan mandi (sabun, dll). Ini bisa juga dibeli di tanah suci

- Obat-obatan. Bawalah obat-obatan yang bisa Anda konsumsi, atau yang biasa Anda minum saat sakit. Bawa juga vitamin C untuk menjaga stamina. Jika lupa membawa, di tanah suci banyak apotik, atau minta dokter pendamping

 

Selasa, 05 Oktober 2010

Materi Pesantren I'tikaf

Masjid Daarut Tauhiid

MEMBANGUN AKIDAH
YANG BENAR
 

Pentingnya Belajar Ilmu Akidah (Tauhid) di Banding dengan Ilmu-ilmu yang Lain
  1. Merupakan tujuan diciptakannya Manusia (Adz-Dzariat :56)
  2.  Diutusnya para Rasul (Qs. An-Nahl :36)
  3. Pengantar Kebahagiaan manusia di Dunia dan Akhirat
 Pengertian Akidah
Secara Bahasa artinya Ikatan/ Tautan/ Keterkaitan,
Secara Istilah adalah beriman kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala, Para Malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, Hari Akhir, dan Qadha dan Qadar.

 PEMBAGIAN
AQIDAH

  1. SHOHIHAH, Aqidah yang bersih dari bentuk-bentuk penyimpangan (kesyirikan)
  2. BATHILAH,Aqidah yang menyimpang atau bercampur dengan penyimpangan-penyimpangan (kesyirikan)
 SUMBER AQIDAH SHOHIHAH
AL-QUR’AN
AS-SUNNAH

 KEUNTUNGAN MEMILIKI AQIDAH SHOHIHAH
  1. Mendapatkan petunjuk di dunia dan aman dari siksa api neraka di akhirat (QS : Al-An’Am : 6 : 82)
  2. Mendapatkan kebahagiaan dalam hidup (QS. An-Nahl 16 : 97)
  3. Dapat meleburkan dosa-dosa , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai anak Adam seandainya kamu datang menghadap-Ku dengan dosa sepenuh jagat, sedangkan kamu ketika mati berada dalam keadaan tidak menyekutukan –Ku, niscaya akan Aku akan berikan kepdamu ampunan sepenuh jagat pula” (HR. Tirmidzi)
  4. Memiliki tingkatan Iman yang paling tinggi. Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “ Iman itu memiliki lebih dari 60 cabang. Cabang yang paling utama adalah “La Ilaaha Illallah” dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang menyakitkan dari jalan” (HR. Muslim)

--

 

Pengikut

Media Islam

Pondok AQIQAH 99 BANDUNG Copyright © 2009 Masjidku-DT Designed by a_goesdt@yahoo.com