Kamis, 28 Oktober 2010

Sikap terhadap Musibah

             Sebagai agama sempurna, Islam memberikan pedoman lengkap guna menyikapi segala macam peristiwa, baik suka maupun duka. Sabda Nabi SAW,”Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin, karena semua keadaannya baik baginya, dan itu tidak terjadi pada siapa pun kecuali pada orang mukmin. Jika dia mendapat kelapangan dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesulitan dia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).

Pedoman Islam itu antara lain menyangkut bagaimana menyikapi musibah. Oleh ulama musibah didefinisikan sebagai “segala apa yang dibenci yang terjadi pada manusia” (kullu makruuhin yahullu bi al-insan) (Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, h. 527). Musibah gempa bumi DIY dan Jateng 27 Mei 2006 lalu benar-benar telah melahirkan berbagai hal yang dibenci, seperti robohnya rumah, kematian anggota keluarga, rusaknya perabotan, dan sebagainya.

Bagaimana pedoman Islam dalam menyikapi musibah seperti ini? Bagi shahibul musibah (yang terkena musibah) Islam memberikan pedoman sikap antara lain :

1. IMAN DAN RIDHO TERHADAP KETENTUAN (QADAR) ALLAH

Kita wajib beriman bahwa musibah apa pun seperti gempa bumi, banjir, wabah penyakit, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita pun wajib menerima ketentuan Allah ini dengan lapang dada (ridho). Allah SWT berfirman :

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)

Maka dari itu, tidak benar kalau orang berkata gempa Yogya ini terjadi lantaran Nyi Roro Kidul marah. Yang benar, bencana ini adalah ketentuan Allah, bukan ketentuan Nyi Roro Kidul.

Kita pun wajib menerima taqdir Allah ini dengan rela, bukan dengan menggerutu atau malah menghujat Allah SWT. Misalnya dengan berkata,“Ya Allah, mengapa harus aku? Apa dosaku ya Allah?” Hujatan terhadap Allah Azza wa Jalla ini sungguh kurang ajar dan tidak sepantasnya, sebab Allah SWT berfirman :

“Dia [Allah] tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS al-Anbiyaa` [21] : 23)

2. SABAR MENGHADAPI MUSIBAH

Sabar, menurut Imam Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalain, adalah menahan diri terhadap apa-apa yang Anda benci (al-habsu li an-nafsi ‘alaa maa takrahu). Sikap inilah yang wajib kita miliki saat kita menghadapi musibah. Selain itu, disunnahkan ketika terjadi musibah, kita mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun ). Allah SWT berfirman :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . (QS al-Baqarah [2] : 155-156)

Dengan demikian, sabarlah ! Jangan sampai kita meninggalkan sikap sabar dengan berputus asa atau berprasangka buruk seakan Allah tidak akan memberikan kita kebaikan di masa depan. Ingat, putus asa adalah su`uzh-zhann billah (berburuk sangka kepada Allah) ! Su`uzh-zhann kepada manusia saja tidak boleh, apalagi kepada Allah.

Memang, orang yang tertimpa musibah mudah sekali terjerumus ke dalam sikap putus asa (QS 30 : 36). Namun Allah SWT menegaskan, sikap itu adalah sikap kufur, sebagaimana firman-Nya :

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf [12] : 87) .

3. MENGETAHUI HIKMAH DI BALIK MUSIBAH
Seorang muslim yang mengetahui hikmah (rahasia) di balik musibah, akan memiliki ketangguhan mental yang sempurna. Berbeda dengan orang yang hanya memahami musibah secara dangkal hanya melihat lahiriahnya saja. Mentalnya akan sangat lemah dan ringkih, mudah tergoncang oleh sedikit saja cobaan duniawi.

Hikmah musibah antara lain diampuninya dosa-dosa. Sabda Rasulullah SAW :

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Muslim yang mati tertimpa bangunan atau tembok akibat gempa, tergolong orang yang mati syahid. Sabda Nabi SAW :

“Orang-orang yang mati syahid itu ada lima golongan; (1) orang yang terkena wabah penyakit tha’un, (2) orang yang terkena penyakit perut (disentri, kolera, dsb), (3) orang yang tenggelam, (4) orang yang tertimpa tembok/bangunan, dan (5) orang yang mati syahid dalam perang di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Akan diampuni bagi orang yang mati syahid setiap-tiap dosanya, kecuali utang.” (HR Muslim).

Hikmah lainnya ialah, jika anak-anak muslim meninggal, kelak mereka akan masuk surga. Sabda Nabi SAW :

“Anak-anak kaum muslimin [yang meninggal] akan masuk ke dalam surga.” (HR Ahmad)

4. TETAP BERIKHTIAR

Maksud ikhtiar, ialah tetap melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki keadaan dan menghindarkan diri dari bahaya-bahaya yang muncul akibat musibah. Jadi kita tidak diam saja, atau pasrah berpangku tangan menunggu bantuan datang.

Beriman kepada ketentuan Allah tidaklah berarti kita hanya diam termenung meratapi nasib, tanpa berupaya mengubah apa yang ada pada diri kita. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’du [13] : 11)

Ketika terjadi wabah penyakit di Syam, Umar bin Khattab segera berupaya keluar dari negeri tersebut. Ketika ditanya,”Apakah kamu hendak lari dari taqdir Allah?” maka Umar menjawab,”Ya, aku lari dari taqdir Allah untuk menuju taqdir Allah yang lain.”

Rasulullah SAW pun memberi petunjuk bahwa segala bahaya (madharat) wajib untuk dihilangkan. Misalnya ketiadaan logistik, tempat tinggal, masjid, sekolah, dan sebagainya. Nabi SAW bersabda,”Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan bahaya bagi orang lain.”HR Ibnu Majah) (

5. MEMPERBANYAK BERDOA DAN BERDZIKIR

Dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir bagi orang yang tertimpa musibah. Orang yang mau berdoa dan berdzikir lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang tidak mau atau malas berdoa dan berdizikir. Rasululah SAW mengajarkan doa bagi orang yang tertimpa musibah : “Allahumma jurnii fii mushiibatii wa akhluf lii khairan minhaa (Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.) (HR Muslim)

Dzikir akan dapat menenteramkan hati orang yang sedang gelisah atau stress. Allah SWT berfirman :

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’du [13] : 28)

Dzikir yang dianjurkan misalnya bacaan istighfar,“Astaghfirullahal ‘azhiem“. Sabda Nabi SAW :

“Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah akan membebaskannya dari kesedihan, akan memberinya jalan keluar bagi kesempitannya, dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (HR. Abu Dawud).

6. BERTAUBAT

Tiada seorang hamba pun yang ditimpa musibah, melainkan itu akibat dari dosa yang diperbuatnya. Maka sudah seharusnya, dia bertaubat nasuha kepada Allah SWT. Orang yang tak mau bertaubat setelah tertimpa musibah, adalah orang sombong dan sesat. Allah SWT berfirman :

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar.” (QS asy-Syuura [42] : 30)

Sabda Nabi SAW “Setiap anak Adam memiliki kesalahan (dosa). Dan sebaik-baik orang yang bersalah, adalah orang yang bertaubat.” (HR at-Tirmidzi).

Bertaubat nasuha rukunnya ada 3 (tiga). Pertama, menyesali dosa yang telah dikerjakan. Kedua, berhenti dari perbuatan dosanya itu. Ketiga, ber-azam (bertekad kuat) tidak akan mengulangi dosanya lagi di masa datang. Jika dosanya menyangkut hubungan antar manusia, misalnya belum membayar utang, pernah menggunjing seseorang, pernah menyakiti perasaan orang, dan sebagainya, maka rukun taubat ditambah satu lagi, yaitu menyelesaikan urusan sesama manusia dan meminta maaf.

7. TETAP ISTIQOMAH PADA ISLAM

Dalam setiap musibah, selalu ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkannya untuk tujuan jahat. Misalkan saja upaya kotor berupa Kristenisasi. Caranya adalah dengan memberikan bantuan logistik, medis, uang, rumah, dan sebagainya.

Tapi semuanya itu tidaklah diberikan dengan tulus, melainkan ada maksud keji di baliknya. Ujung-ujungnya, orang-orang kafir itu ingin sekali memurtadkan orang Islam menjadi orang Kristen. Na`uzhu billah min dzalik.

Di sinilah seorang muslim dituntut untuk bersikap istiqamah, yaitu konsisten di atas satu jalan dengan mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan (mulazamah al-thariq bi fi’li al-wajibat wa tarki al-manhiyyat). Allah SWT mewajibkan kita istiqamah :

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS Huud [11] : 112)

Muslim yang murtad (keluar dari agama Islam) dan menjadi pemeluk Kristen, sungguh telah tertipu mentah-mentah dunia akhirat. Allah SWT berfirman :

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2] : 217)

Karena itu wajiblah bagi kita untuk terus istiqamah mempertahankan keislaman kita. Jangan mudah tergiur oleh bujuk rayu setan berbentuk manusia itu. Jangan mati kecuali tetap memegang teguh agama Islam. Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali ‘Imraan [3] : 102)

Khatimah

Demikianlah atara lain pedoman Islam dalam menyikapi musibah. Khususnya bagi shahibul musibah (yang terkena musibah). Dengan berpegang teguh dengan pedoman-pedoman Islam di atas, mudah-mudahan Allah SWT akan memberikan rahmat, hidayah, dan ‘inayah-Nya kepada kita semua. Amin ! [http://khilafah1924.org ]
  

Hakikat Musibah

                   Bagi seorang mu’min tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan terjadi di dunia ini karena, “Kun Fayakun” Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini terutama yang tidak kita inginkan harusnya menjadi bahan “muhasabah” (introspeksi) atau “tazkirah” (peringatan) apa yang sebenarnya sedang Allah rencanakan untuk kita.

Berbicara masalah musibah, sebenarnya musibah adalah sesuatu yang mutlak akan dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, baik seseorang itu yang kafir maupun mu’min. Jika musibah menimpa orang yang kafir, pasti itu adalah azab. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32 : 21).

Namun, jika menimpa orang yang mu’min, pasti itu adalah bentuk kasih-sayang Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah menyatakan, “Jika Allah sudah mencintai suatu kaum maka Allah SWT akan memberikan bala, ujian atau cobaan”. Ini semakin mempertegas kepada kita bahwa musibah bagi orang-orang yang mu’min itu sebagai bentuk kasih-sayang.

Paling tidak, ada “tiga” kemungkinan yang mendasari terjadinya musibah yang menurut Al Qur’an sebagai bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada orang-orang mu’min. 
Pertama, sebagai ujian keimanan bagi orang mu’min. Kasih-sayang Allah kepada hamba-Nya yang mu’min di antaranya ditunjukkan-Nya dengan menurunkan musibah dengan memberikan peluang kepada hamba-hamba-Nya yang mu’min untuk mengikuti ujian dalam proses peningkatan keimanannya. Allah SWT berfirman: “Adakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja oleh Allah untuk menyatakan, “aamannaa” (kami telah beriman) padahal Kami belum lagi memberikan ujian kepada mereka. Sungguh telah Kami uji umat sebelum mereka, dengan ujian itu jelaslah oleh Kami siapa yang benar pengakuan keimanannya itu dan siapa pula yang dusta” (Al Ankabuut, 29 : 2-3).

Hakikatnya ujian itu sendiri sebenarnya adalah sesuatu hal yang sangat positif, yang tidak positif adalah jika seseorang yang telah diberi peluang untuk mengikuti ujian lalu ia tidak memanfaatkan peluang tersebut secara optimal sehingga tidak lulus. Betapa ruginya seseorang jika tidak diberi kesempatan untuk mengikuti ujian. Sebaliknya, alangkah beruntung dan bahagianya seseorang yang telah diberi peluang mengikuti ujian dan berhasil lulus dalam ujiannya.

Disadari atau tidak, selama ini kita mungkin telah banyak melakukan kekeliruan dalam memaknai dan menyikapi musibah yang terjadi. Kadang pandangan kita selama ini dalam memaknai dan menyikapi musibah terlalu cenderung pada nilai duniawi. Kemudian kita menganggap ujian itu sebagai bentuk musibah yang sebenarnya sesuatu yang tidak diharapkan. Sehingga ukuran keshalehan seseorang pun kadang dilihat dari kurangnya musibah dalam hidupnya. Ini pandangan yang keliru terhadap makna musibah yang sebenarnya.

Kedua, boleh jadi musibah sebagai bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada orang-orang mu’min “bukan” sebagai ujian keimanan, tetapi justru karena Allah SWT sedang memilihkan hal yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya. Namun, karena ketidakmampuan untuk bisa memahami hikmah di balik dari suatu peristiwa, lantas kita akhirnya menganggap peristiwa yang terjadi itu sebagai musibah.

Karena ketidakmungkinan manusia “memastikan” apa yang akan terjadi (QS. Lukman : 34) maka acapkali kita tidak bisa memahami hikmah di balik peristiwa yang sedang terjadi. Terkadang kita baru bisa merasakan hikmahnya setelah sekian lama mengalaminya. Pada saat peristiwa boleh jadi kita menganggapnya sebagai musibah, tapi setelah berlalu beberapa waktu mungkin seminggu, sebulan bahkan mungkin setelah beberapa tahun, barulah kita menyatakan rasa syukur setelah menyadari hikmahnya.

Sebagai contoh, seseorang sudah berniat bahkan telah melakukan berbagai macam persiapan untuk menghadiri suatu acara penting yang tempatnya jauh dari domisilinya di antaranya dengan memesan tiket pesawat. Pada saat pemberangkatan, atas takdir-Nya ternyata ia terlambat hanya beberapa menit. Ungkapan perasaan yang muncul saat itu mungkin ungkapan dalam bentuk cacian, makian atau dan lain sebagainya. Setelah beberapa saat kemudian melalui berita yang bersangkutan mendengar bahwa pesawat yang semula akan ditumpanginya jatuh. Barulah saat itu dia sadar dan bersyukur karena tertinggal pesawat.

Karena ketidakmampuan membaca hikmah dari suatu peristiwa, maka sering terjadi orang yang semestinya bersyukur malah mencaci-maki, yang semestinya tertawa malah menangis. Sebaliknya, dia tertawa pada saat seharusnya dia menangis. Semua ini terjadi oleh sebab ketidakmampuan manusia memastikan apa yang akan terjadi, Allah SWT berfirman: “Tidak ada satu jiwa pun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi besok”(Luqman, 31 : 34).

Di lain sisi Allah SWT juga mengingatkan, “Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa” (Al Baqarah, 2 : 216). Oleh karena ketidakmampuan kita dalam memahami hikmah dari satu peristiwa yang menimpa kehidupan kita, maka kita menganggap sesuatu itu tidak baik padahal ia sangat baik. Sebaliknya, kita menganggap sesuatu itu tidak baik, padahal ia sangat baik bagi kita. Jadi, sangat mungkin sekali bahwa musibah yang menimpa diri kita saat ini sebenarnya bentuk kasih-sayang-Nya, karena Allah sedang memilihkan sesuatu yang terbaik bagi kita dunia dan akhirat.

Ketiga, bisa juga musibah yang menimpa kehidupan seorang mu’min “bukan” sebagai ujian keimanan dan “bukan” pula pilihan Allah yang terbaik, tetapi semata-mata azab dari Allah SWT bagi seorang mu’min masih dalam konteks kasih-sayang-Nya. Karena menurut Allah SWT hamba-Nya yang mu’min itu sudah mulai jauh meninggalkan syari’at-Nya di mana yang bersangkutan baru akan sadar jika diturunkan azab sebagai peringatan kepadanya agar ia segera kembali hidup di jalan yang diridhai-Nya.

Kalau musibah itu merupakan ujian keimanan, maka kita harus bersyukur. Lebih bersyukur lagi kalau musibah itu adalah pilihan Allah yang terbaik, berarti Allah sedang sangat sayang kepada kita, sedang membimbing dan menunjukkan apa yang terbaik bagi kita. Bahkan, kalau pun musibah itu sebagai azab, tetap saja kita harus bersyukur kepada-Nya karena Allah masih mau mengingatkan agar segera bertaubat dan memperbaiki diri sebelum ajal menjemput kita.

Sebelum tulisan ini saya akhiri, saya mengajak sidang pembaca untuk merenung sejenak terhadap sebuah kisah yang layak kita jadikan “ibrah” (pelajaran) bagi kita, di mana betapa luar biasanya buah keimanan dapat mengecilkan arti musibah duniawi. Dikisahkan salah seorang tabi’in bernama Urwah bin Zabir, yang Allah takdirkan salah satu kakinya dari lutut ke bawah sakit hingga membusuk. Tak lama kemudian didatangkan 4 orang Tabib sebagai upaya penyembuhan. Ternyata hasil diagnosa 4 Tabib menyimpulkan bahwa tidak ada cara lain kecuali harus diamputasi kaki yang membusuk tersebut. Jika tidak, maka dikhawatirkan penyakitnya akan menjalar ke seluruh tubuh.

Ketika berita ini disampaikan kepada Urwah, dengan tenang dia mengatakan, kalau memang itu adalah keputusan para Tabib, kenapa tidak segera dilakukan ? Sebelum pelaksanaan operasi, disodorkanlah oleh Tabib minuman kepada Urwah sambil mengatakan, silakan anda minum terlebih dahulu. Ketika Urwah mau meminumnya terciumlah aroma lain, maka dia bertanya, minuman apa ini ? “Arak”, kata Tabib. Maksudnya apa, tanya Urwah. Jawab Tabib: “supaya anda mabuk agar mengurangi sedikit rasa sakit karena sebentar lagi kaki anda akan kami gergaji mulai dari kulit, daging hingga tulang. Dan, tentu saja akan terjadi pendarahan yang luar biasa. Supaya darah tidak terus mengalir, maka sudah kami siapkan “kuali” dengan minyak goreng yang sudah mendidih. Setelah kaki anda dipotong agar jangan terus mengeluarkan darah maka kaki anda itu akan kami masukkan ke dalam kuali agar cepat kering.

Jawab Urwah, “Sungguh sulit diterima akal sehat jika ada seorang mu’min yang beriman kepada Allah lantas dia meminum sesuatu untuk menghilangkan akalnya. Sehingga dia sudah tidak ingat lagi siapa Tuhannya? Betapa saya meragukan keimanan seseorang yang sampai mau meminum khamr sehingga dia tidak sadar bahwa Allah itu ada, bagaimana bisa diyakini keimanan seperti itu. Saya tidak ingin sedikit pun termasuk orang seperti itu, untuk itu buanglah jauh-jauh khamr dari depan mukaku”.

“Lantas apa yang mesti kami lakukan?”, kata Tabib. Urwah berkata: “setelah saya memberi isyarat dengan tangan saya, silakan laksanakan tugas kalian, gergaji kaki saya dan masukkan ke dalam kuali”. Lalu Urwah pun asyik khusyu’ berzikir sampai kemudian dia angkat tangannya sambil terus berzikir memejamkan mata pertanda dia sudah siap untuk digergaji kakinya. Maka digergajilah kaki Urwah dan langsung dimasukkan dalam kuali. Konon, dia sempat pingsan. Setelah siuman, sambil tetap berbaring di tempat tidur, dia meminta kepada orang di sekelilingnya agar potongan kakinya tersebut setelah dimandikan dan dikafani dan sebelum dikuburkan dapat dihadirkan kepadanya.

Dibawakanlah potongan kakinya dan sambil berbaring dia angkat potongan kaki itu sambil mengatakan, Ya Allah, Alhamdulillah, selama ini Engkau telah karuniakan saya dua kaki, kelak kaki ini akan menjadi saksi di akhirat nanti. Ya Allah, Demi Allah, saya tidak pernah membawa dia melangkah ke jalan yang tidak Engkau ridhai. Kini, Engkau ambil yang hakikatnya adalah milik-Mu Ya Allah, innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun, mudah-mudahan saya masih bisa memanfaatkan kaki yang tersisa ini. Lantas potongan kaki pun diberikan sambil ia meminta dikuburkan.

Nyaris tidak ada kesedihan, tapi tiba-tiba Urwah menangis. Orang yang menyaksikan sejak awal itu berkomentar: “kami semula begitu merasa bangga dengan ketegaran anda, lalu kenapa engkau kini menangis, wahai Urwah ?” Beliau menjawab: “Demi Allah, hanya Allah yang Mahatahu, saya bukan menangis karena hilangnya satu kaki saya, yang hakikatnya milik Allah, tapi yang membuat saya menangis hanyalah kekhawatiran, apakah dengan kaki yang hanya tinggal satu ini saya masih bisa beribadah dengan sempurna kepada Allah ?

Allahu Akbar! Luar biasa keimanan Urwah, dunia menjadi kecil di mata orang mukmin seperti Urwah ini. Siang hari dia menjalani operasi amputasi, malamnya salah satu dari tujuh orang anaknya meninggal dunia. Ketika berita duka ini disampaikan, beliau berkata, saya belum bisa bangkit dari tempat tidur ini, karenanya tolong urus jenazahnya, mandikan, kafani dan shalatkan. Sebelum dikuburkan ijinkan saya memegang sejenak jenazah anak saya. Ketika jenazah putranya disodorkan kepadanya, ia pun memegang jenazah anaknya sambil mengusap kepalanya dan bardoa, “Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau telah karuniai saya tujuh anak. Mudah-mudahan sebagai ayah mereka sudah saya laksanakan kewajiban mendidik mereka di jalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, sekarang Engkau ambil salah seorang di antara mereka, milik-Mu Ya Allah, bukan milikku. Innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun, mudah-mudahan Engkau masih memberikan manfaat untuk 6 anak yang masih tersisa. Allahu Akbar, bagi orang mukmin hanya Allah yang “Akbar” dunia dan segala isinya “kecil” di mata seorang yang mencintai Allah di atas cinta kepada selain Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab

Menyikapi Musibah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahi ladzi kholaqo kulla syaiin faqoddarohu taqdiro wajarot al umuru ‘ala ma yasya-u hikmatan watadbiro walillahi mulkussamawati walardli wailahi yurja’ul amru kulluhu walan tajida mindunihi waliyyan wala nashiro waasyhadu al lailaha illallah lahul mulku walahul hamdu wakanallahu bikulli syaiin qodiro waasyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu arsalahu baina yadai ssa’ati basyiran wanazdira wada’iyan ila llahi biizdnihi wasirajan munira shallallahu ‘alaihi wa’la ‘alihi waashhabihi waatba’ihim wasallama tasliman katsiro. Amma ba’du

Faya ibadallah, uusikum wanafsi bitaqwallah watha’atihi la’allakum tuflikum.

Hadirin jam’ah shalat jum’ah rahimakumullah.

Secara fitrah tidak seorangpun di muka bumi ini yang menginginkan suatu musibah yang menimpa pada dirinya, musibah dalam arti suatu kejadian yang tidak menyenangkan, musibah yang menyusahkan atau menyakitkan, baik secara fisik maupun mental.

Yang diinginkan oleh setiap orang adalah sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, melegakan dan sebagainya.

Bagi seorang mukmin, musibah yang terjadi dan menimpa dirinya di pandangnya sebagai ujian hidup. Maka dibalik ujian itulah yang perlu direnungkan, apa hikmah di balik ujian itu?

Karena seorang mukmin dengan konsepsi keimanannya akan mampu memandang persoalan dengan sudut pandang yang berbeda dengan umumnya manusia. Baginya ukuran baik atau buruknya sesuatu, benar atau salah, suka dan dukanya sesuatu semua dikembalikan nilainya kepada Allah swt.

Hal inilah yang menjadikan seoarang mukmin itu senantiasa berpikir positif dan optimis dalam mengarungi kehidupannya, sekalipun harus menghadapi berbagai ujian, atau kenyataan paling pahit dalam hidupnya, ia tidak akan mudah patah dan berputus asa . Karena ia yakin bahwa setiap kejadian pastilah sudah dalam kehendak dan takdir Allah swt.

” Katakan tidak akan menimpa kepada kita suatu musibah apaun kecuali apa-apa yang telah di ditetapkan oleh Allah swt”

Maka tepatlah apa yang di sabdakan Nabi saw :

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin bahwa semua urusannya baik, yang demikaian itu tidak terjadi pada siapapun, kecuali untuk orang mukmin, jika menimpanya sesuatu yang menggembirakan bersyukurlah ia maka adalah kebaikan baginya, dan jika menimpanya sesuatu yang menyusahkan bersabarlah ia maka adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim )

Hadist ini dapat menjadi landasan paradigma berpikir seorang mukmin sehingga ia senantiasa berada pada jalan kebenaran, ia selalu memiliki pandangan yang lurus kedepan, pandangannya kuat dan mendasar, luas menjangkau dan seimbang dalam mensikapi segala sesuatunya, dengan demikian ia akan memiliki kesiapan secara mental, pemikiran, lahir dan batin dalam menghadapi realita dan berbagai kemungkinan yang akan menimpa di dalam hidupnya.

Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah.

untuk lebih jelasnya marilah kita perhatikan firman Allah swt. yang berbicara tentang perspektif musibah:

” Tidak ada suatu musibah apapun di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis didalam Kitab (Lauhil Mahfuzd) sebelum Kami menciptakannya. Sesunggunya yang demikan itu adalah mudah bagi Allah, (Kami jelaskan yang demkian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu . Dan Allah tidak menyukai orang sombong dan lagi membanggakan diri.” ( QS. Al-hadid . 22-23 )

Di dalam ayat lainnya Allah pun meytebutkan yang artinya :

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.“

Dari kedua surat tersebut diatas dapatlah kita fahami bahwa musibah dalam bentuk apapun tidak mungkin terjadi dan menimpa pada siapapun, kecuali telah terencana dalam ilmu Allah bahkan telah ditetapkan pula dilauhil mahfudz, maka tidak akan pernah terjadi musibah yang salah sasaran, maka musibah apapun yang menimpa seorang mukmin akan difahami oleh seorang mukmim sebagai takdir dan qodho-Nya.

Yang paling penting bagi manusia adalah mengimani segala keputusan dan ketentuan yang telah terjadi karena kesemuanya terjadi tidaklah terlepas dari ” Kebijakan dan Keadilan Allah swt.”

Manusia telah biberi wilayah otoritasnya dalam bentuk kebebasan berfikir, berusaha, beramal untuk menjawab seluruh tantangan hidupnya, mencapai apa yang diinginkannya, menghindari apa yang tidak diinginkannya.

Allah juga telah memberinya seperangkat alat dan modal besar, berupa akal, hati, perasaan dan panca indra, Allahpun telah memberinya petunjuk berupa kitab suci yang telah di jelaskan oleh Nabi-Nya, dengan petunjuk ini seharusnya manusia mampu menjalani kehidupannya dengan sempurna.

Allah telah menundukkan apa yang ada di bumi, untuk menjadi sarana hidup dan kehidupan bagi manusia. Manusia diberi kesempatan untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya apa yang ada di bumi tersebut sebagai bagian kesenangan hidup dan kehidupannya, begitu sempurnanya Allah memberi kenikmatan kepada manusia.

Maka ketika sebuah musibah yang tidak menyenangkan terjadi seharusnya manusia bertanya, mengapa hal ini terjadi ? apa sebab terjadinya musibah yang demikian ini?.

Inilah bentuk- bentuk dan cara Allah swt. memberi ibtila atau ujian kepada manusia. Dengan ujian ini Allah ingin membedakan siapa manusia yang benar-benar beriman dengan orang yang yang benar-benar kafir kepada-Nya.

Dari ujian inilah nantinya Allah akan membedakan siapa di antara manusia yang paling berkualitas keimanan dan amal, bersyukur atas nikmat, istiqomah dalam ketaatan kepada-Nya atau kufur atas nikmat-Nya dan berputus asa atas cobaan yang menimpanya..

Dengan iman kepada Taqdir Allah, Allah akan membuka pintu hidayah menuju keridhoan-Nya.

Di akhirat nanti Allah akan pisahkan siapa yang termasuk “ahlul yamin” dan siapa yang termasuk “ahlus syimal”, untuk kemudian dibalas dengan surga atau neraka-Nya.

Nabi Ibrahim dipilih oleh Allah swt sebagai pemimpin bagi ummat manusia karena kesempurnaannya dalam mensikapi segala bentuk ujian . Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Dan ingatlah ketika Ibrahim di uji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan ) lalu Ibrahim dengan sempurna menunaikannya. Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata : ” (dan saya mohon juga) ya Allah dari anak keturunan ku, Allah berfirman:” Janji-Ku (ini) tidak berlaku bagi orang-orang yang dhalim.” (QS: Al baqoroh. 124-125)

Oleh karenanya tidak ada alasan bagi orang-orang beriman untuk lari atau menghindar dari ujian dan cobaan dalam hidupnya, tidak ada kamus putus asa dalam menghadapi segala macam ujian, karena ujian itu ternyata merupakan cara Allah untuk meningkatkan kualitas orang-orang beriman.

Bahkan ujian yang Allah berikan pada manusia sebagiannya merupakan cara Allah memberi ampunan pada orang-oarang yang sabar dalam menerima cobaan-Nya.

Adapun mengapa Allah swt. menimpakan musibah sementara manusia tidak ada yang menginginkan musibah itu, maka disinilah Allah swt. ingin menunjukkan kekuasaann-Nya yang mutlak, tidak ada seorang pun yang dapat mendekte kehendak-Nya. Ia Maha kuasa atas segala suatu, selain juga Allah ingin memberikan pelajaran pada orang yang mau berpikir tentang sebab terjadinya musibah dan hikmah dibalik musibah tersebut.

Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah

Cobalah sejenak kita renungkan tentang sebab-sebab bencana dan musibah yang terjadi di negeri kita, adakah kedzaliman Allah dibalik musibah itu ? Ataukah ulah manusia dan kejahatan mereka yang menyebabkan terjadinya musibah tersebut?

Untuk itu marilah kita jadikan seluruh musibah yang menimpa diri kita, keluarga kita atau bangsa kita ini sebagai:

1. Pengingatan agar kita tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan datangnya musibah dan bencana yang pernah menimpa umat terdahulu.
2. Sarana instropeksi bagi kita untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu (musyrik), tidak sombong dan merasa aman dari azab Allah.
3. Upaya mendekatkan diri dan tawakkal kita kapada-Nya.
4. Upaya meningkatkan kualitas iman, amal dan taqwa kita untuk mendapatkan ampunan dan surga-Nya.

Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah

Marilah kita jadikan isi khutbah singkat ini sebagai, peringatan, pealajaran, agar kita semakin beriman pada taqdir Allah, semakin yakin dan optimis, semakin yakin dan sabar, berserah diri dan bertawakkal kepada-Nya.

Semoga kita senantiasa mendapat lindungan dari Allah swt. dan terhindar dari segala macam musibah, fitnah dan mara bahaya.

Semoga musibah yang pernah menimpa kita dan saudara kita menjadi cara Allah mengampuni dosa-dosa kita semua, dan menggantinya dengan ampunan, pahala dan surgan-Nya amin.

Barakallahu li walakum filqur’anil ‘dhim ……. []

Dzikir ,Fikir, Ikhtiar

Pada kesempatan Jum’at hari ini, Khatib akan menyampaikan uraian mengenai perpaduan antara ilmu, fikir, dzikir, dan ikhtiar dalam menjalani hidup dan kehidupan kita selaku muslim dan mu’min.Sesungguhnya agama Islam yang kita sama-sama cintai ini sangatlah menekankan pentingnya menuntut ilmu, karena itu Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada umatnya agar giat menuntut ilmu dan mendayagunakan akal pikiran dalam menjalani setiap langkah kehidupan serta mengadakan penelitian dan pem­bahasan dalam menemukan pengetahuan guna keperluan hidup dan kehidupan.

Hal itu kita lakukan karena meyakini bahwa ilmu itulah yang menjadi penegak kehidupan dan sebagai asas kebangkitan serta tiang tonggak­nya peradaban, sekaligus menjadi wasilah untuk memperoleh kemajuan bagi setiap pribadi dan jama’ah atau kelompok.Perlu dipahami dengan sebaik-baiknya bahwa Islam itu adalah agama kehidupan (Dînul Hayât) yang cocok bagi setiap zaman dan tempat. Islam adalah agama yang mementingkan keselamatan akhirat, namun tetap menyuruh untuk memperoleh kehidupan yang baik di dunia (Hayâtan Thayyibah).

Allah SWT berfirman :مَنْ عَمِلَ صَالِحًامِنْ ذَكَرٍأَوْأُنْثَىوَهُوَمُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةًطَيِّبَةًوَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوْايَعْمَلُونَ,

artinya : “Siapa saja yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS.16 An Nahl : 97).

Untuk mencapai kebahagiaan dan kesentosaan serta keselamatan pada kedua kehidupan tersebut maka Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu, Rasulullah SAW bersabda : مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ اْلاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ , artinya : “Barangsiapa yang ingin sukses di dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang ingin sukses di akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin sukses pada keduanya (dunia dan akhirat) maka hendaklah dengan ilmu (pula)” (Al Hadits).

Syari’at Islam berdiri atas ilmu dan menganjurkan untuk senantiasa meningkatkan ilmu dalam setiap urusan duniawi dan ukhrawi. Marilah kita perhatikan bahwa mula-mula ayat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah ayat yang mendorong untuk belajar dalam rangka memperoleh ilmu atau ma’rifat, sedangkan jalan atau cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah dengan jalan mempergunakan pena dan membaca, yakni tulis baca.

Allah berfirman artinya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia (Allah) telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia (Allah) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. 96 Al-‘Alaq : 1-5).

Allah SWT telah memuliakan manusia melebihi hewan dengan ilmu yang dimilikinya dan diamalkannya dalam menata hidup dan kehidupannya. Jadi, ilmu itu merupakan sifat khas manusia, yang kalau tidak didasari ilmu, niscaya tercabutlah sifat kemanusiaan dari dirinya dan disebabkan adanya ilmu itu merupakan sarana untuk meningkatkan kehidupan dari alam hayawani menjadi alam insani, sebagaimana kita ketahui bahwa malaikat pun disuruh sujud (menghormat) kepada Adam a.s. disebabkan karena Adam a.s. mempunyai kelebihan berupa ilmu tentang nama-nama yang telah diajarkan Allah kepadanya.

Mari kita lihat perpaduan antara ilmu, fikir, dan dzikir yang akan direalisasikan dalam bentuk amalan kehidupan yang nyata guna memperoleh keselamatan duniawi dan ukhrawi. Allah SWT berfirman, artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka” (QS. 3 Ali Imram : 190-191).

Dari firman Allah tersebut dapatlah kita mengambil pelajaran yang sangat berharga bahwa fikir dan dzikir merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam memperkokoh iman dan tauhid kita kepada Allah SWT. Dalam hal ini kita hanya diperbolehkan merenungkan dan memikirkan tentang fenomena alam semesta dan bahkan dalam diri kita sendiri, sedangkan mengenai Zat Allah tidak dibenarkan merenungkan dan memikirkannya.

Rasulullah SAW bersabda : تَفَكَّرُوْاِفىخَلْقِ اللهِ وَلاَتَفَكَّرُوْاِفىاللهِ فَتَهْلَكُوْا artinya : “Berfikirlah tentang makhluk Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Zat-Nya niscaya kamu akan binasa karenanya” (HR. Abu Syekh).Dari penjelasan tersebut dapatlah kita memahami bahwa fikir dan dzikir haruslah memperkokoh Tauhid Rububiyah kita maupun Tauhid ‘Uluhiyah kita, yaitu tauhid yang melahirkan pemahaman tentang kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya, dan tauhid yang melahirkan amalan berupa ibadah kepada Allah SWT yang diwujudkan dalam berbagai bentuk ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lainnya.

Sebenarnya yang paling inti di dalam ajaran Islam itu adalah Tauhid Uluhiyah yang merupakan ajaran yang dibawa oleh para Nabi terdahulu, yaitu ajakan untuk menyembah Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dari makhluk-Nya. Sebab kalau hanya Tauhid Rububiyah saja, kaum musyrikin di Mekkah pun bertauhid secara Tauhid Rububiyah, bahwa mereka mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, namun mereka tetap menyembah patung-patung dan berhala dengan alasan bahwa berhala-berhala itu adalah menjadi wasîlah baginya kepada Allah.

Bahkan Iblis pun mengakui Allah sebagai pencipta dirinya sendiri, namun Iblis enggan tunduk melakukan perintah Allah pada waktu diperintahkan supaya menghormat kepada Adam.Karena itu marilah kita padukan antara ilmu, fikir, dan dzikir dalam meningkatkan kualitas iman dan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT. Ilmu merupakan lampu penerang bagi setiap muslim dalam menjalani hidup dan kehidupannya agar tidak salah dalam mengerjakan dan mengamalkan perintah Allah, sedangkan fikir merupakan penjernihan akal dan jiwa kita untuk mengakui kebesaran Allah dan memahami kelemahan diri kita, sedangkan dzikir mengarahkan hati kita untuk selalu bertaqarrub ke hadirat Allah SWT dengan berbagai macam bentuk kegiatan yang bersifat ibadah.

Ibadah inilah sebenarnya menjadi fokus utama kehadiran kita di muka bumi ini, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya : وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ , artinya :“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. 51 Adz Dzariyaat : 56).

Mari kita jadikan firman Allah tersebut sebagai petunjuk dan pedoman utama dalam melaksanakan seluruh pengabdian kita kepada Allah SWT dan menjadikannya sebagai dasar setiap amal yang kita lakukan, yang tiada lain intinya ialah ikhlas semata-mata karena untuk mencapai ridha Allah SWT, mari kita jadikan ilmu sebagai pelita dalam melalui jalan kehidupan yang penuh dengan rintangan, dan kita jadikan fikir dan dzikir sebagai penjernih jiwa dan pikiran dalam menempuh berbagai macam tantangan, dan dengan demikian kita akan mampu mengadakan pilihan dan ikhtiar untuk menentukan sikap dalam melaksanakan kewajiban dan amanat yang dipikulkan di atas diri kita masing-masing.

Amanah Keluarga

Masyarakat Muslim yang baik merupakan idaman setiap Mus-lim, dan seperti kita ketahui bahwa masyarakat adalah kumpulan dari rumah, ini berarti kebaikan masyarakat kembali kepada ke-baikan rumah. Dan rumah seperti yang kita ketahui memiliki anggota-anggota, di mana masing-masing memikul tanggung jawab sesuai dengan posisi yang ditempatinya, dan kebaikan rumah kem-bali kepada peran aktif anggotanya dalam memikul tanggung jawab tersebut. Bapak adalah penanggung jawab umum dan utama dalam sebuah rumah, di tangannya arah sebuah rumah ditentukan, dan tanggung jawab utamanya adalah menjaga dan melindungi, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata’ala :


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادُُ لاَّيَعْصُونَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَايُؤْمَرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tharim: 6).

Sementara ibu juga memiliki tanggung jawab yang sebanding, tanggung jawabnya adalah kepada rumah. Tentang prinsip tanggung jawab ini Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ... وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُوْلٌ عَـنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا.

"Masing-masing dari kalian adalah penanggung jawab dan masing-masing dari kalian bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya…. Seorang laki-laki adalah penanggung jawab terhadap keluarganya dan dia bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya, seorang wanita adalah penanggung jawab di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya." (Muttafaq 'alaihi dari Ibnu Umar. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 472; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1201).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam perlu menyinggung tanggung jawab bapak dan ibu karena besarnya pengaruh dan peranan keduanya dalam membentuk anak yang merupakan amanah dari Allah. Adakah pengaruh yang lebih besar daripada menjadikan anak yang lahir di atas fitrah menyimpang dari fitrah tersebut?

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ،

"Tidak ada anak kecuali dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi, sebagai-mana binatang ternak melahirkan anaknya dalam keadaan lengkap. Apakah kamu melihat kekurangan padanya?" (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1852).

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah

Anak adalah amanat Allah Subhanahu Wata’ala kepada kita, masing-masing dari kita berharap anaknya menjadi anak yang baik, dan demi itu di-butuhkan optimalisasi tanggung jawab dan peran dari orang tua. Meskipun pada dasarnya seorang anak lahir di atas fitrah, akan tetapi ini tidak berarti kita membiarkannya tanpa pengarahan dan bimbingan yang baik dan terarah, karena sesuatu yang baik jika tidak dijaga dan dirawat, ia akan menjadi tidak baik akibat pengaruh faktor-faktor eksternal. Pendidikan dan pengarahan yang baik terhadap anak sebenarnya sudah harus dimulai sejak anak tersebut belum lahir bahkan sebelum anak tersebut ada di dalam kandungan yaitu dengan memilih ibu yang merupakan sekolah pertama bagi anak. Dari sini kita memahami mengapa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau memaparkan alasan seorang wanita dinikahi, mendorong agar alasan agama diletakkan dalam skala prioritas. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut,

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :


تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

"Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilih-lah wanita yang agamis, niscaya kamu beruntung." (Muttafaq 'alaihi dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1750; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 798).

Dari sini kita bisa memahami larangan al-Qur`an menikahi wanita musyrik dan pernyataannya bahwa budak yang beriman adalah lebih baik darinya. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :


وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sampai mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu." (Al-Baqarah: 221).

Sebagaimana kita memahami larangan al-Qur`an menikahi wanita pelaku kemaksiatan. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :


الزَّانِي لاَيَنكِحُ إِلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَيَنكِحُهَآ إِلاَّزَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang Mukmin." (An-Nur: 3).

Pendidikan dan pengarahan seperti apa yang diharapkan dari seorang pezina, sedang dia merupakan sekolah pertama bagi anak-nya, sementara dia sendiri seperti itu? Ada benarnya juga kata pepatah, 'buah jatuh tidak jauh dari pohonnya'. Pepatah Arab berkata, 'Bejana memberikan rembesan sesuai dengan isinya'.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah

Ada satu perkara yang patut kita perhatikan dalam menyiapkan dan memilih sekolah pertama yang baik bagi anak, yaitu hendaknya kita memperbaiki diri kita terlebih dahulu, karena inilah titik tolak yang memberi pengaruh besar kepada sekolah pertama anak dan kepada anak itu sendiri. Karena sudah menjadi sunnatullah kebaikan berpasangan dengan kebaikan, dan orang yang baik akan dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan. Hal ini diisyaratkan dengan jelas oleh Firman Allah Subhanahu Wata’ala :


الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)." (An-Nur: 26).

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah

Dari segi ini, maka dalam fikih pernikahan terdapat pembahasan tentang kafa`ah atau kufu`, dan kami bisa mengerti pendapat sebagian ulama –dan ini adalah pendapat yang rajih- yang mempertimbangkan agama dan akhlak sebagai dasar bagi kafa`ah. Katanya, "Laki-laki fajir tidak sekufu` dengan wanita afifah (wanita baik)." Oleh sebab itu, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mendorong para wali agar menikah-kan anaknya dengan orang yang beragama dan berakhlak baik. Sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam :


إذا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَــزَوِّجُوْهُ .

"Jika datang kepadamu orang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia." (HR. at-Tirmidzi, no.1086, dia ber-kata, "Hadits hasan gharib").

Kebaikan diri juga berimbas kepada anak. Ada pepatah me-ngatakan, orang yang tidak memiliki tidak memberi.

Bagaimana Anda bisa membuat anak Anda baik sementara Anda tidak memiliki kebaikan? Tahukah kita siapa yang mengucapkan doa berikut ini ?


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Furqan: 74).

Mereka adalah ibadur Rahman, para hamba Allah yang Maha Rahman, para pemilik sifat-sifat mulia dan terpuji yang Allah jelaskan di akhir surat al-Furqan.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah

Di samping itu, diperlukan pula pemberian imunisasi kepada anak agar mereka terbentengi dari keburukan, sebab upaya meraih kebaikan pada anak harus dibarengi dengan membentenginya dari keburukan, kebaikan tidak terwujud jika keburukan tidak dihadang, dan sumber keburukan adalah setan, maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan suami istri agar berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri yang menjadi sebab kelahiran seorang anak, karena doa tersebut merupakan benteng dari setan bagi si anak.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


أَمَا لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ يَقُوْلُ حِيْنَ يَأْتِيْ أَهْلَهُ:

"Ketahuilah, seandainya salah seorang dari kalian ketika mendatangi (mencampuri) istrinya mengucapkan,


بِاسْمِ الله، اللهم جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا،

'Dengan Nama Allah, ya Allah, jauhkanlah setan dariku dan jauhkanlah setan dari apa (anak) yang Engkau anugerahkan kepada kami',


ثُمَّ قُدِّرَ بَيْنَهُمَا فِي ذلك، أَوْ قُضِيَ وَلَدٌ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا.

kemudian ditakdirkan atau ditetapkan seorang anak untuk mereka, niscaya setan tidak memudharatkannya selama-lamanya." (Muttafaq 'alaihi. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1768; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 828).

Upaya perlindungan ini tidak sebatas dalam kondisi tersebut, lebih dari itu ia harus dilakukan ketika anak tersebut telah lahir, hal ini seperti yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kepada kedua cucunya Hasan dan Husain.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata :


كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلّم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُوْلُ: إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ،

"Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berdoa untuk melindungi Hasan dan Husain, beliau bersabda, 'Sesungguhnya bapak kalian berdoa mengucapkannya sebagai perlindungan kepada Ismail dan Ishaq,


أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ.

'Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala setan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang mengakibatkan sakit (mata hasad)'." (HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1354).

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah

Kelahiran adalah awal kehidupan seorang anak di dunia, demi kebaikan dan untuk memberikan keberkahan kepadanya dalam kehidupan selanjutnya, maka pada saat dia lahir, orang tuanya dianjurkan melakukan beberapa perkara seperti yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, ada akikah, ada cukur rambut, pemberian nama dan tahnik. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى.

"Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, ia disembelih untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan dia diberi nama." (HR. Abu Dawud, no. 2837; dan at-Tirmidzi, no. 1525: dari Samurah bin Jundub, dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan sanadnya shahih menurut al-Arna`uth di dalam Tahqiq Zad al-Ma'ad, 2/297).

Dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu, ia berkata, "Anakku lahir lalu aku membawanya kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, beliau memberinya nama Ibrahim, beliau mentahniknya dengan sebiji kurma, mendoakannya dengan keberkahan dan menyerahkannya kepadaku." (Muttafaq alaihi, Mukhtasyar Shahih al-Bukhari, no. 1822; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1403).

Hal yang sama juga dilakukan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin az-Zubair, ketika dia dilahirkan oleh ibunya, Asma` binti Abu Bakar, dan nama Abdullah adalah dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. (Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1400).

Juga kepada putra pasangan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim. Anas berkata, "Lalu Ummu Sulaim melahirkan anak laki-laki. Abu Thalhah berkata kepadaku, 'Bawalah dia kepada Rasul.' Lalu aku membawanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dengan beberapa biji kurma. Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menggendongnya dan bertanya, 'Ada sesuatu bersamanya?' Mereka menjawab, 'Ya, beberapa biji kurma.' Lalu Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam mengambilnya dan mengunyahnya kemudian mengambilnya dari mulutnya dan memasukkannya ke mulut anak itu dan beliau menamakannya Abdullah." (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1401).

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah

Termasuk perkara yang penting terkait dengan kelahiran adalah pemberian nama kepada anak. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak Asma` dan Ummu Sulaim seperti yang dijelaskan dalam dua hadits di atas. Dalam pemberian nama kepada anak, hendaknya kita memperhatikan petunjuk Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau adalah teladan bagi kita. Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menyukai nama yang baik, beliau menyatakan bahwa nama yang paling dicintai Allah Subhanahu Wata’ala adalah Abdullah dan Abdurrahman. Beliau menamakan anak Abu Musa, Ibrahim, nama yang sama yang beliau berikan kepada salah seorang putra beliau yang meninggal semasa kecil. Beliau menganjurkan agar memberikan namanya kepada anak-anak. Semua itu adalah nama-nama yang baik, lebih dari sekedar cukup sehingga kita tidak memerlukan nama-nama yang diimpor dari orang-orang yahudi dan nasrani, karena hal itu mengandung sikap mengikuti tradisi-tradisi mereka yang dicela. Nama, seperti kata Ibnul Qayyim, membawa dan menunjukkan makna, maka hikmah menuntut adanya keterkaitan dan kesesuaian antara keduanya. Nama, masih kata Ibnul Qayyim, memiliki pengaruh kepada pemiliknya dan pemilik nama terpengaruh dengan namanya dalam kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, nama yang baik merupakan harapan baik dan nama yang baik adalah nama yang dicontohkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah

Harapan orang tua kepada anak adalah agar anak menjadi anak yang shalih. Ini karena hanya anak shalih yang berguna bagi orang tua, agar harapan tersebut terwujud, maka hendaknya mendidiknya dengan mengenalkan dan menanamkan aturan-aturan agama kepada anak jika anak memang telah nalar, orang tua memerintahkannya melakukan perintah agama, meskipun belum wajib atasnya agar jika dia kelak dewasa, dia terbiasa dan tidak canggung. Begitu pula orang tua membiasakannya meninggalkan larangan-larangan agama agar kelak bila dia telah dewasa dia memahami batasan-batasan agama yang tidak boleh dilanggar. Shalat sebagai contoh, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang tua agar membiasakan anak shalat mulai umur tujuh tahun.

Dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya, dari kakeknya radhiallahu “anhum, dia berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

"Perintahkanlah anak-anakmu shalat sementara mereka berumur tu-juh tahun, dan pukullah karenanya (jika mereka meninggalkan) sementara mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah di antara mereka di tempat tidur." (HR. Abu Dawud, no.495, dihasankan oleh an-Nawawi di dalam Riyadh ash-Shalihin, no. 4/301; dan didukung oleh al-Arnauth).

Dalam hal larangan, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memberikan teladan ketika cucunya al-Hasan bin Ali radhiallahu ‘ahuma mengambil kurma sedekah dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


كُخْ كُخْ اِرْمِ بِهَا، أَمَّا عَلِمْتَ أَنَّا لاَ نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ.

"Hus, hus, buanglah ia, ketahuilah bahwa kita tidak makan sedekah." (Muttafaq 'alaihi, dengan lafazh Muslim. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 715; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 515).

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah

Di samping anak dikenalkan dan dibiasakan terhadap perintah dan larangan, hendaknya dia juga diajari adab-adab yang bermanfaat. Al-Qur`an telah memberikan salah satu contoh pengajaran adab kepada anak, yaitu adab isti`dzan. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِيَسْتَئْذِنكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِّن قَبْلِ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ الظَّهِيرَةِ وَمِن بَعْدِ صَلاَةِ الْعِشَآءِ ثَلاَثَ عَوْرَاتٍ لَّكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَعَلَيْهِمْ جُنَاحُُ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ اْلأَيَاتِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمُُ . وَإِذَا بَلَغَ اْلأَطْفَالُ مِنكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَئْذَنَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat Shubuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya`. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (An-Nur: 58-59).
Contoh yang sama telah diberikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun dalam bidang yang berbeda, yaitu adab makan, beliau ajarkan adab ini kepada anak dari istrinya Ummu Salamah, yaitu Umar bin Abu Salamah.
Dari Umar bin Abu Salamah radhiallahu ‘anhu, dia berkata :


كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلّم، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِيْ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلّم: يَا غُلاَمُ، سَمِّ الله، وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ.

"Aku adalah anak kecil dalam asuhan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. (Suatu ketika pernah) tanganku ngacak ke sana kemari di nampan (saat makan ber-sama), maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, 'Wahai nak, ucapkan-lah, 'Bismillah', makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat denganmu." (Muttafaq alaihi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1801; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1300).

Semua ini membantah anggapan sebagian orang, bahwa anak tidak perlu dilarang dan diperintah, biarkan saja katanya, kasihan biar dia bebas, sebab kalau anak diperintah dan dilarang, maka hal itu akan mengekangnya, mematikan kreatifitas dan energinya. Di samping itu, anak belum terkena beban taklif untuk apa dia dilarang dan diperintahkan? Saya katakan kepada orang yang berpendapat demikian, di mana letak pendidikannya kalau begitu? Pendidikan adalah bimbingan dan arahan di mana salah satunya adalah perintah dan larangan. Membiarkan anak tanpanya adalah tidak mungkin. Anak yang belum memahami kemaslahatan dirinya mesti diarahkan dan dibimbing, hanya saja persoalannya terletak pada cara dan metode larangan dan perintah. Bagaimana pun Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam lebih mengetahui tentang anak daripada mereka dan beliau mengarahkan dengan memerintah dan melarang, bagi seorang Muslim beliau adalah imam dan teladan.

Rabu, 27 Oktober 2010

Hakikat Kesabaran

KHUTBAH PERTAMA :


إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.

Hadirin Rahimakumullah wa A'azzakumullah!

Takwa adalah anugerah yang paling agung setelah hidayah iman yang telah dimasukkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala ke dalam kalbu.

Dengan bersyukur yang sebenarbenarnya, Allah Subhanahu Wata'ala akan meningkatkan kenikmatan yang agung itu, insya Allah. Dia hujamkan keimanan ke dalam hati kita dan mengangkat tinggi derajat ketakwaan kita. Amin, Allahumma, amin…

Hadirin Rahimakumullah!

Jika keimanan itu laksana burung, maka jiwa kita akan terbang menuju ke hadirat Allah Subhanahu Wata'ala dengan dua sayap yang kokoh, yaitu sayap syukur dan sayap sabar.

Hakikat sabar adalah teguh dan kokoh mempertahankan jiwa untuk selalu berada pada ketentuan syari'at Allah, dengan tetap menjalankan ketaatan dan menahan diri dari larangan serta berlapang dada pada setiap ketentuan ujian dari Allah Subhanahu Wata'ala.

Maka orang yang bersabar akan senantiasa teguh dan selalu menambah kekuatan tenaga jasmani dan rohaninya untuk meningkatkan amal ketaatan, terus mengokohkan dan menambah tekun amal ibadah dan amal shalih mereka. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 200).

Mereka juga bersabar di dalam menahan penderitaan dengan tetap melaksanakan ketaatan, sehingga Allah Subhanahu Wata'ala amat memuji dan menyanjung mereka.

Dengan bersabar, seseorang akan menyadari dan ridha bah-kan cinta terhadap ketentuan ujian penderitaan yang telah ditak-dirkan oleh Allah pada dirinya. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedi-kit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 155).

Bagaimana tidak, padahal orang-orang kafir, orang-orang musyrik dan orang-orang atheis mampu bertahan dengan penderitaan-penderitaan yang menimpa mereka, maka orang beriman pasti lebih kokoh, tahan dan ridha, bahkan cinta pada ketentuan takdir itu, kemudian dengan kekuatan jiwa dan imannya, orang-orang yang beriman mencari kebaikan di dunia dan di akhirat dari penderitaan itu dengan beristirja` hanya kepada Allah. Istirja` maksudnya, meyakini, mengakui, menyadari sepenuhnya serta menye-rahkan segenap kebaikan urusannya hanya kepada Allah, sehingga Allah Subhanahu Wata'ala berkenan membalasnya dengan yang lebih indah. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :


الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'." (Al-Baqarah: 155 – 156).

Hadirin Rahimakumullah wa A'azzakumullah!

Itulah hakikat kesabaran yang intinya adalah teguh bertahan sekokoh-kokohnya dalam memperkuat jiwa, kemudian memperjuangkan segenap kemampuan jiwanya itu dalam menempuh keridhaan Allah, dengan melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya dalam kondisi apa pun.

Kesabaran yang demikian itulah yang disediakan bagi penyandangnya berbagai kemuliaan, keagungan, ketinggian derajat, kekuasaan, bahkan berbagai balasan yang dijanjikan oleh Allah dalam Firman-firmanNya,

Mari kita simak beberapa pujian dan balasan yang disediakan dan diberikan kepada orang-orang yang bersabar, yang kita kutip dari Firman Allah Subhanahu Wata'ala,

1. Allah akan mengantarkannya menuju kepada keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 200).

2. Pahala orang-orang yang bersabar akan dilipatgandakan dengan hitungan yang tanpa batas. Sebagaimana yang diperkuat oleh Firman Allah :


قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah ke-pada Rabbmu.'Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mem-peroleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." (Az-Zumar: 10).

3. Mencapai kejayaan dan kepemimpinan, sebab tanpa kesabaran, cita-cita yang sudah di depan mata dan sedikit lagi akan tergapai menjadi sirna dan hilang. Cobalah perhatikan pemimpin-pemimpin besar dunia, mereka adalah orang-orang yang gigih memperjuangkan cita-citanya, di samping senjata utama yang tidak pernah lekang dari mereka yaitu kesabaran menghadapi berbagai rintangan yang menghadang mereka.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :


وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajadah: 24).

4. Dengan kesabaran, kekuatan akan selalu bersanding ber-samanya, kemenangan akan selalu hadir di hadapannya, dan pertolongan Allah akan selalu menyertainya. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :


وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

"Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).

5. Kesabaran merupakan perisai kokoh dan tangguh, yang dapat digunakan menangkal berbagai makar yang diluncurkan musuh, bahkan dengan kesabaran itu, makar-makar musuh akan menjadi lemah dan tak mempunyai daya serang yang berarti.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :


إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةُُ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةُُ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطُُ

"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit-pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (Ali Imran: 120).

6. Sebagai penghormatan yang sangat istimewa bagi para penyabar. Dikarenakan ketangguhan mereka di dalam bersabar, maka para malaikat menyambut dan mengucapkan salam kepada mereka.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :


سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

"(Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 23 – 24).

7. Menjadi golongan yang dicintai Allah merupakan cita-cita dan tujuan seorang mukmin, maka dengan kesabaran, kecintaan Allah Subhanahu Wata'ala dengan sendirinya tersandang kepadanya.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :


وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَآأَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

"Dan berapa banyak nabi yang berperang, bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146).

Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh oleh seorang penyabar, yang tidak memungkinkan bagi khatib untuk menyebutkan satu persatu dan merincinya dengan detil pada khutbah ini, tapi di antara keutamaan-keutamaan itu adalah mencapai puncak derajat tertinggi dan kebaikan yang paling agung di dunia maupun akhirat, mendapat kejayaan dan keberuntungan, jauh dari kerugian dan penyesalan, diistimewakan oleh Allah bersama para dermawan yang penuh cinta kasih, dan dimasukkan ke dalam golongan Kanan (أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ), serta dapat memperkuat sendi-sendi keislamannya dengan kesabarannya tersebut.

Hadirin Rahimakumullah wa A'azzakumullah!

Itulah berbagai kemuliaan, keutamaan yang dikaruniakan, pahala yang tiada terhitung, kemudian ampunan dan surga yang pasti akan diperoleh orang-orang yang bersabar.
Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :


مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ الله بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

"Tidaklah menimpa seorang Muslim dari keletihan atau penyakit, kecemasan, kesedihan, penderitaan, tidak pula duka cita, sampai pada duri yang menusuknya, kecuali Allah meleburkan dengannya dari dosa-dosanya." (HR. al-Bukhari: 5641 – 5642; Muslim: 2573).

Bahkan Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam meriwayatkan satu hadits Qudsi yang beliau riwayatkan dari Sang Maha Penyabar, bahwa Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :


إذا ابْتَلَيْتُ عَبْدِيْ بِحَبِيْبَتَيْهِ فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ.

"Bila Aku menguji hambaKu dengan kedua kekasihnya (matanya) kemudian bersabar, maka Aku ganti baginya dengan surga." (HR. al-Bukhari : 5653).

Hadirin Rahimakumullah wa A'azzakumullah!

Itulah keutamaan kesabaran, maka marilah kita memohon taufik dan inayahNya, semoga Allah Subhanahu Wata'ala menjadikan kita semua se-bagai hambaNya yang penyabar.


بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا اللهُ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ الله لِيْ وَلَكُمْ.


KHUTBAH KEDUA :


اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

Hadirin Rahimakumullah!

Kesabaran adalah kebahagiaan hidup yang sesungguhnya, beberapa orang sahabat radiyallahu 'anhum datang memohon sesuatu kepada Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam, beliau memberinya, maka mereka datang memohon lagi, Rasul Sallallahu 'Alahi Wasallam memberi lagi, kemudian mereka datang lagi, beliau Sallallahu 'Alahi Wasallam memberi lagi, sampai akhirnya beliau kehabisan sesuatu untuk diberikan kepadanya, kemudian beliau Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :


مَا يَكُوْنُ عِنْدِيْ مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ الله ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ الله ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ الله ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.

"Tidak ada suatu benda berharga pun yang aku sembunyikan dari kalian semua, maka siapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaganya. Siapa yang mencukupkan diri (dari meminta-minta), maka Allah akan mencukupinya, dan siapa yang menyabar-kan dirinya, maka Allah akan menjadikannya bersabar. Dan tidaklah seseorang mendapat karunia yang lebih baik dan lebih luas melebihi dari kesabaran." (HR. al-Bukhari-Muslim dari Abi Sa'id al-Khudri).

Kesabaran itulah perhiasan akhlak yang harus kita mohonkan kepada Allah, Sayyidina Umar radiyallahu 'anhu berkata :


وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ.

"Kita temukan sebaik-baik kehidupan kita adalah dengan kesabaran."

Maka marilah kita memohon tambahan kokohnya kesabaran itu dengan menambah ilmu tentang keutamaan kesabaran dan menambah kokohnya iman kita tentang sifat, anugerah dan janji-janji Allah serta kehidupan dan balasan di akhirat kelak.


وَاصْبِرْ وَمَاصَبْرُكَ إِلاَّبِاللهِ وَلاَتَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَتَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ . إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

"Bersabarlah (hai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (An-Nahl: 127-128).


إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Taubat

Khotbah yang ingin saya sampaikan hari ini saya awali dengan dua ayat :

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ اْلأَلِيْمُ. , artinya : “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” (QS.15 Al Hijr 49-50).

Ada dua pengertian yang paradox bisa kita tangkap dari ayat tersebut, yaitu :

Pertama, siksa dan azab Allah SWT sangat pedih

Kedua, Allah SWT sangat Pengasih dan Penyayang lebih daripada siapa saja yang berhati kasih sayang, dan pasti akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya betapapun besarnya jika ia mau bertaubat.

Dan ini yang paling dominan dalam ayat tersebut, karenanya didahulukan penyebutannya, apalagi kalau dilihat dari أَسْبَابُ اْلنُّزُوْلِ , yaitu : “Rasulullah SAW melewati sekelompok sahabatnya yang sedang tertawa bersenda gurau, beliau menegurnya : اَتَضْحَكُوْنَ وَذَكَرَ الْجَنَّةَ وَالنَّارُ بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ “Kalian tertawa dan menyebut-nyebut sorga, padahal neraka berada di depan kalian ?”, Kemudian datanglah Jibril dan berkata : Wahai Muhammad sungguh Allah SWT berfirman : “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang …”.

Ayat tersebut memberikan optimisme dan harapan kepada kita, bahwasanya tidak ada dosa betapapun besarnya – kecuali syirik – yang tidak akan terampuni jika kita mau bertaubat, apalagi penjelasan dan janji Allah tersebut diperkuat oleh hadits-hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, seperti, artinya : “Ketika Allah menciptakan makhluk. Ditulisnya sebuah tulisan di atas singgasana-Nya : sungguh rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku. Dalam sebuah riwayat disebutkan : Sungguh rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku”

Sesuai dengan firman Allah

قُلْ لِّمَنْ مَّا فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ قُلْ ِللهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ َ , artinya : “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang …” (QS.6 Al-An’am 12).

Jadi, salah dan dosa adalah sesuatu yang wajar terjadi, dan itu dengan tegas disampaikan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam hadits di bawah ini yang artinya : “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian semua tidak ada yang berbuat dosa, niscaya kalian semua akan dibinasakan kemudian akan diciptakan suatu bangsa yang berbuat dosa, tapi, kemudian mohon ampun kepada Allah SWT, dan Allah mengampuni mereka” (HR. Muslim).

Hadits di atas menyadarkan kita, bahwa dosa adalah sesuatu yang wajar terjadi, yang terpenting adalah upaya menyadari kesalahan dan bertaubat.

Rasulullah SAW bukan hanya bisa menyuruh, tapi beliau juga memberi contoh dan melakukannya, sebagaimana hadits ini

يَآأيُهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلىَ اللهِ فَإِنِّي اَتُوْبُ إِلَيْهِ ِفي الْيَوْمِ مِأَتَة مَرَّة , artinya : “Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sungguh saya bertaubat kepada-Nya seratus kali setiap harinya” (HR. Muslim). “Karenanya, yakinlah bahwa Allah SWT pasti mengampuni dosa-dosa kita dengan rahmat dan belas kasih-Nya, dan itu modal masuk surga”.

Sampai di sini kita bisa memahami bahwasanya taubat dan harapan adalah semisal pelampung dan timah pemberat. Pelampung agar kita tidak tenggelam kedalam kepesimisan dan keputus-asaan, sementara timah pemberat akan menyelamatkan kita dari kesombongan yang itu adalah bentuk lain dari dosa dan kemaksiatan, dan dengan kesombongan membuat Iblis terlaknat selamanya. Untuk itu Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah sabdanya, yang artinya : “Amal seseorang tidak akan mengantarkannya masuk surga, tidak Anda ya Rasulullah ? Kata sahabat. Beliau menjawab : tidak juga saya, kecuali Allah meliputi dan memenuhiku dengan ampunan dan rahmat” (Muttafaq alaih).

Ya Allah, semoga Engkau ampuni Dosa-dosa kami dan terimalah ibadah kami, kemudian masukkanlah kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi sangat Penyayang lebih dari siapa saja yang berhati pengasih dan penyayang. Amin

--

 

Pengikut

Media Islam

Pondok AQIQAH 99 BANDUNG Copyright © 2009 Masjidku-DT Designed by a_goesdt@yahoo.com